Madzhab Al-Asy’ari, Benarkah Ahlussunnah Wal Jamaah (bag. 1)
PENILAIAN TERHADAP BUKU
“MADZHAB AL-ASY’ARI, BENARKAH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH?
Jawaban Terhadap Aliran Salafi”
Tulisan: Muhammad Idrus Ramli
Oleh
Agus Hasan Bashori [1]
الحمد لله وبعد : لقد بعث الله نبينا محمدًا صلى الله عليه وسلم- بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون، وقد تحقق هذا كما وعد- سبحانه وتعالى وقد ترك أمته على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها إلا هالك
Setelah membaca buku yang ditulis Gus Muhammad Idrus ini ternyata ada banyak informasi, asumsi, argumentasi, persepsi dan kesimpulan yang kurang atau salah bahkan menyesatkan. Dalam kesempatan yang sangat singkat ini kita bahas beberapa hal, antara lain:
- Istilah Asy’ari dan Salafi
Judul buku melawankan antara al-asy’ari dan as-Salafi- memang demikian adanya, namun penulis mengunggulkan al-asy’ari atas as-salafi.
Asy’ari adalah nisbat kebada imam abul Hasan al-Asy’ari (260-324 H). Sedang salafi adalah nisbat kepada as-salaf as-shalih yaitu generasi terdahulu dari para sahabat dan tabi’in dan atba’ attabi’in.
Jika nisbat kepada seorang imam dari abad ke 3 boleh dan terpuji tentu nisbat kepada seluruh imam dari 3 generasi awal islam yang pertama adalah lebih boleh dan lebih terbuji.
Jika mengikuti seorang imam di abad ketiga –yang tidak ma’shum- diyakini benar tentu mengikut seluruh imam pada 3 kurun waktu yang utama –yang ijma’ mereka ma’shum- lebih dijamin kebenarannya.
Jika mengikuti seorang imam pada abad ketiga tidak ada perintahnya maka mengikuti para ulama salaf ada banyak perintahnya, bahkan sebagai tanda golongan yang selamat.
Imam asy’ari bergantung pada salaf, bukan sebaliknya dan imam asy’ari diukur dengan salaf bukan sebaliknya.
Ahlussunnah, ahli hadits, dan ahli atsar sudah ada sebelum imam al-Asy’ari lahir, dan tidak menjadi asy’ariyyah setelah imam al-Asy’ari menjadi imam.
Kelompok salaf, Ahlussunnah, ahli hadits dan ahli atsar berpegang teguh dengan sunnah dan membenci kalam dan ahlinya, sementara kelompok asya’irah adalah termasuk ahli kalam dan membela kalam.
Para ulama salaf sebelum imam al-Asy’ari dan sesudahnya berwasiat agar mengikuti manhaj salaf as-shalih, yaitu mengikuti hadits dan atsar dan tidak berwasiat untuk mengikuti asyairah atau ilmu kalam.
Abu Hamzah al-A’war berkata: Ketika maqalah-maqalah (pemikiran akidah) marak di Kufah saya mendatangi Ibrahim al-Nakha’I ( mufti dan faqih Irak W. 96 ) , saya katakan: “Wahai Abu Imran, Tidakkah anda melihat makalah-makalah yang beredar di Kufah? Maka dia berkata:
أَوَّهْ، دَقَّقُّوْا قَوْلاً وَاخْتَرَعُوْا دِيْنًا مِنْ قِبَلِ أَنْفُسِهِمْ لَيْسَ مِنْ كِتَابِ اللهِ وَلاَ مِنْ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَقَالُوْا: هَذَا هُوَ اْلحَقُّ وَمَا خَالَفَهُ بَاطِلٌ، لَقَدْ تَرَكُوْا دِيْنَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم، إِيَّاكَ وَإِيَّاهُمْ.
“Oh. Mereka merumitkan ucapan dan merekayasa agama dari nafsunya sendiri, tidak dari kitab Allah juga tidak dari sunnah Rasul r , lalu mereka mengatakan: Inilah yang benar, dan yang menyalahi adalah batil. Sungguh mereka telah meninggalkan agama Nabi Muhammad r . Jauhilah mereka olehmu.” (Hilyatul Auliya’: 4/223)
Bahkan imam Asyari sendiri menisbatkan dirinya kepada Imam Ahmad imam Ahli hadits, dan setelah menceritakan akidah ahli hadits ahli sunnah (para salaf shalih) mengatakan:
فهذه جملة ما يأمرون به ويستسلمون إليه ويرونه، وبكل ما ذكرنا من قولهم نقول وإليه نذهب؛ وما توفيقنا إلا بالله …( مقالات الإسلاميين: 229)
Intinya, saya ingin mengatakan bahwa istilah salafiyah dan salafi adalah istilah syar’i yang harus diterima, lebih baik dan lebih mulia dari pada istilah asya’irah.
- Perjalanan hidup Imam Asy’ari terdiri dari 3 mar h alah (periode) sebagaimana pembagian Ibnu Katsîr j (774 H) yang dinukil oleh Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) dalam Syara h I h yâ’ , yaitu:
Pertama : Mar h alah I’tizâl (Mu’tazilah) yang jelas-jelas sudah beliau tinggalkan (260-300 H).
Kedua : Mar h alah menetapkan sifat-sifat ‘aqliyah yang tujuh yaitu: h ayât , ‘ilmu , qudrah , Irâdah , samâ’ , bashar dan kalâm . Serta menakwilkan sifat-sifat khabariyah , seperti: wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain (300 H – + 320 H).
Ketiga : Menetapkan semua sifat-sifat Allâh tanpa takyîf dan tasybîh sebagaimana madzhab salaf, yaitu manhaj beliau yang ditulis dalam kitâbnya yang terakhir, “Al-Ibânah ” [2] (320-324/330 H). (rinciaannya ada di buku saya Abul Hasan al-Asy’ari Imam Yang Terzhalimi , hal. 19-32)
3. Adapun pernyataan penulis bahwa tesis perjalanan pemikiran imam Asy’ari yang 3 fase itu disebarluaskan oleh wahhabi (h. 39, maka ini mengesankan sentimen penulis terhadap wahhabi cukup tingggi, sebab Ibnu Katsîr j (774 H) dan Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) bukan wahhabi dan tidak mengenal wahhabi . Juga tidak setiap orang yang mengingkari adanya 3 fase itu bukan salafi, sebab masalah periodesadsi itu ijtihad, yang penting sepakat bahwa antara kitab-kitab awal pasca mu’tazilah yang belum berintisab dengan Imam Ahmad dengan kitab-kitab akhir setelah berintisab dengan imam Ahmad ada perbedaan, yaitu yang akhir lebih kental kepada salaf ahli hadits, dan menyatakan diri mengikut ucapan mereka.
4. Ucapan penulis: seandainya kehidupan asy’ari seperti dalam tesis diatas tentu akan populer dan tersebar luas sebagaimana halnya informasi keluarnya dari faham mu’tazilah (40). Saya katakan : Justru itu sudah terjadi, sangat terkenal kalau imam Asy’ari akhirnya menisbatkan diri kepada imam Ahmad ibn Hanbal ra. Jadi bukan hanya orang lain, justru imam Asy’ari sendiri yang menyatakan hal itu dalam kitabnya al-Ibanah seperti yang ada dalam Tabyin Kadzibil Muftari yang ditahqiq oleh al-Kautsari (hal. 125). Sedangkan di dalam kitab Maqalat beliau menyatakan mengikut para ulama ahli hadits dan ahli sunnah (maqalat: 226), serta menyendirikan penyebutan Abdullah ibn Said ibn Kulab dalam hal-hal yang pemikirannya menyalahi ahli hadits ahli sunnah. (Maqalat halaman 146, 226, 229, 398, 421, 423)
5. Adapun setelah meninggalkan mu’tazilah maka dia tidak menyatakan ikut Imam Ahmad tapi langsung mengikuti ibnu Kullab, al-Muhasibi dan al-Qalanisi seperti yang dikatakan oleh Khaldun, (dikutip oleh penulis hal 42). Semua orang itu ditahdzir oleh Imam Ahmad dan lainnya karena kalamnya. Dan kitab yang dihasilkan waktu itu adalah kitab seperti al-Luma’ fi raddi ala ahl az-Zaighi wal bida’ . Dan itu adalah kitab yang pertama kali dikarang pasca mu’tazilah seperti dikutip oleh penulis dari Ibn Asakir (hal. 20)
Penulis kurang transparan saat menyebut “dalam fase kedua ini al-Asy’ari menulis kitabnya al-Ibanah (50) padahal ia meyakini bahwa fase kedua ini memanjang dari tahun 300 H hingga 324 atau 330 H), yang tentu ada puluhan kitab yang dikarang oleh al-Asy’ari selama masa 24 atau 30 tahun itu. dan yang sudah jelas kitab al-Luma’ adalah kitab pertama dan al-Ibanah ditulis terakhir, atau diakhir-akhir hidupnya, minimal 20 tahun setelah itu sebab sampai tahun 320 H, imam al-Asy’ari tidak menyebutkan kitab al-Ibanah dalam daftar karangannya. Menurut al-Kautsari al-Ibanah ditulis saat memasuki Baghdad (hamisy Tabyin Kadzibil muftari hal. 289)
6. Klaim bahwa sebagian ulama ahli hadits sebagai bermanhaj Asy’ariyyah perlu dikritisi dan diluruskan (124-172). Mereka yang diklaim itu sangat banyak, antara lain: Alhafizh Abu Bakar al-Ismaili (371H), al-Hafizh al-Daruquthni (385 H),al-Hafizh al-Baihaqi (458 H), al-Hafizh an-Nawawi (676 H), Ibn Hajr al-Asqalani (852). Jawaban klaim ini ada pada buku saya Abul Hasan al-Asy’ari Imam Yang Terzhalimi hal. 75-85 ). Lima ulama ini bisa sebagai contoh bahwa klaim yang sama terhadap ulama ahli hadits yang lain perlu dikritisi.
7. Contoh klaim yang serupa adalah bahwa imam Bukhari (256 H) dan Thabari mengikuti ibnu Kullab (47, 50)
Ini adalah bathil, tidak bisa diterima. Imam Bukhari adalah Imam al-dunya pada zamannya dan pembawa bendera hadits. Ini tidak mengherankan sebab ia adalah murid imam Ahmad ra, ibn Ruhawaih, Abu Nuaim, Abu Ubaid al-Qasim ibn Salam dan para ulama salaf.
Siapa yang merenungkan kitab Shahihnya dan yang lainnya pasti mengetahui kalau akidahnya adalah akidah salaf ahlil atsar bukan kalam. Dia menetapkan shifat-shifat Allah sesuai dengan kesucian Allah tanpa tasybih, takyif dan tanpa ta’thil. Dalam kitab al-Tauhidnya ia menyebutkan 58 bab dalam menetapkan shifat-sifat Allah. Ia menetapkan nafs, wajh, ‘aibn, yad, syakhsh, syai`, al-qur`an syai`, uluwwillah ala khalqih, istiwa’ ala arsyih, istawa ma’nanya ‘ala, wartafa’a, kalamullah, menetapkan huruf dan suara untuk kalamullah, dll.
Juga kitabnya yang lain Khalq ‘af’al al-Ibad , warraddu ala al-Jahmiyyah wa ashhab al-Ta’thil , ia menetapkan bahwa kalamullah itu dengan suara. Sifat ini secara sepakat diingkari oleh ibn Kullab dan Asyairah karena dianggap tasybih menurut kaidah mereka bahwa kalamullah itu al-kalam an-Nafsi. Metode Bukhari dalam kitab Tauhid dan Khalq ‘af’al al-Ibad nyata membatalkan klaim kullabiyyahnya. Termasuk yang menguatkan adalah tidak satupun imam bukhari menyebut nama ibn Kullab dalam kitab-kitabnya, juga tidak ucapan al-Muhasibi, al-Qalanisi, al-Karabisi dan lainnya, tidak dalam shahihnya, maupun tawarikhnya dan kitab-kitabnya yang lain. [3]
Bahkan ia dia berkata:
من زعم أني قلت لفظي بالقرآن مخلوق فهو كذاب فإني لم أقله (الالكائي: رقم: 611)
Imam Thabari imamul mufassirin (310 H) juga demikian, meskipun dia memiliki kitab Sharih as-Sunnah, dan at-Tabshir fi ma’alimiddin tetap saja mereka klaim sebagai asyairah. Itu belum lagi dengan kitab tafsirnya. Padahal jelas at-Thabari menetapkan al-Quran adalah kalamullah bukan makhluk, dan membatalkan akidah asy’ariyyah yang mengatakan bahwa ada dua al-qur`an: yang satu kalamullah bukan makhluk, yaitu yang ada pada diri Allah (kalam nafsi, makna), dan yang satunya lagi makhluk, yaitu (kalam lafzhi) yang diucapkan, dibaca, dan ditulis.
Oleh karena kita tidak boleh percaya begitu saja dengan klaim-klaim yang lain.
[1] Disampaikan dalam bedah buku Madzhab al-Asy’ari. Pembahas: Muhammad Idrus Ramli (penulis). Pembanding dan penilai: 1. Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag. 2. Prof. Dr. Jamaluddin Miri, Lc., MA. 3. Ahmad Muzhofar Jufri, Lc., MA. Pada tanggal 11 Juli 2009, di Magnet Zone Bookstore & Café Surabaya.
[2] It h âfu `s-Sâdati `l-Muttaqîn , al-Murtadhâ al-Zubaidi, Darul Fikr, juz II hal. 5; Lihat Syu’batu `l-Aqîdah hal. 47; Abdurra h mân Dimisyqiyyah, Mausû’atu Ahli `s-Sunnah 1/430, 2/ 784.
[3] Lihat al-lalakai, nomor 610
This entry was posted by Abu Hamzah on 18 August 2009 at 04:08, and is filed under Bantahan , Bantahan Syubhat Ahli Kalam . Follow any responses to this post through RSS 2.0 .You can leave a response or trackback from your own site.
-
-
#1 written by yamin 2 months ago
Alhamdulillah, saya sudah mendapat ilmu dari yang anda sebutkan dan juga mendapat ilmu dari hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassallam “Sesungguhnya amal yang diperhitungkan itu adalah pada akhirnya” dan ilmu “Semasa hidup melakukan amalan ahli neraka, satu jengkal neraka didepannya, pada saat itu melakukan amal ahli surga kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkannya dan dia masuk surga. Semasa hidup melakukan amalan surga, satu jengkal surga didepannya, pada saat itu melakukan amalan ahli neraka kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkannya dan dia masuk neraka” Saya bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala bisa baca artikel yang bagus.
Alhamdulillah. Semoga terus istiqamah di jalan ilmu, amal dan dakwah
-
#2 written by yamin 2 months ago
siapa sebenarnya yang memecah belah agama islam ini ? masing-masing kelompok yang mengaku islam dan ahli qur’an dan sunnah beranggapan kelompoknyalah yang benar dan harus masuk kedalamnya, nanti dulu, didunia ini Allah subhanahu wa ta’ala menguji kaum muslimin untuk senantiasa menuntut ilmu yang bersumber dari al qur’an dan hadits yang shahih untuk kita amalkan sesuai kemampuan yang ada pada kita bukan dari hasil pandangan dan pendapat, nah, mana yang benar menurut Allah akan kita dapati setelah kita melihat hasil ujian nanti di akhirat, artinya harus mati dulu. Oleh karena itu berhati-hatilah dengan pemahaman yang tidak berdasarkan dalil yang kuat. Selamat menuntut ilmu yang haq
Apa yang dikatakan benar oleh Allah dan Rasul-Nya maka kita yakini dan kita ketahui kalau itu hak. Apa yang dikatakan batil dan sesat bahkan kufur dan syirik oleh Allah dan Rasul-nya maka kita ketahui dan yakini kalau itu batil sesat kufur dan syirik tidak perlu menunggu mati. Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat “Ikutilah sunnahku dan sunnah sahabatku, jauhi olehmu segala hal yang baru (dalam dalam islam ini) karena setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”
Adakah anda mendapatkan ilmu dari hadits ini? -
#4 written by agus 4 months ago
agus hasan bashori itu tukang fitnah, jenggt kambing, dan celana cingkrang,, ahli takfir . . .
Orang menjelaskan dengan ilmu dan dalil itu jujur dan ilmiah. Orang yang nuduh tanpa dalil itu fitnah. Maka anda adalah tukang fitnah jika tidak bisa mendatangkan dalil. Coba anda tunjukkan mana yang salah dari makalah di atas. Jika tidak bisa maka berdiamlah. Apakah anda mengira bahwa komentar anda yang satu baris itu tidak ada hisabnya di akhirat?!! Jagalah lisan wahai saudaraku sebelum dia bersaksi di akhirat.
-
buat moderator ini web, kayaknya gak pantes kalo masalah dalam ahlus sunnah antum tulis dalam web ini. perdebatannya akan sangat panjang dan menyita banyak waktu dan pikiran serta emosi.
sungguh sangat-sangat bijaksana kalo antum bikin web tersendiri untuk masalah ini terserah antum. ana gak ingin web sebesar ini membahas ‘aib’ atau perbedaan atau friksi dalam ahlussunnah wj.
ayo sobat musuh bersama dah disekitar kita, jangan saling bacok n sikat diantara kita.
afwan minkum…syukran atas pandangannya. bagaimanapun umat wajib faham sunnah Nabi dan Sunnah Sahabat dan yang menyalahinya apakah jahmiyah, khawarij, syiah, bathiniyyah, ahmadiyah atau yang lain, meskipun web ini secara khusus fokus pada masalah syiah musuh besar umat Islam seperti yang antum kemukakan.
-
assalamu’alaikum, akhi….
wah…. enye tidak amanah…… baiklah, tak beri satu saja ketidak amanahan ente dan agus hasan bashori….
kalau ente mengutip tulisan dari Imam murtadlo az-zabidi, tulis yang lengkap…. itu kan syarh Ihya’ul ulum kitabnya…. dan dijelaskan oleh Imam az-zabidi dengan jelas dalam kitab tersebut, “jika ditanya siapa ahlus sunnah setelah masa madzhab 4, maka Imam al-asy’ari dan al-maturidi adalah orangnya”…. jelas ente tidak fair, he…he…..
1. Perjalanan hidup Imam Asy’ari terdiri dari 3 marhalah (periode) sebagaimana pembagian Ibnu Katsîr j (774 H) yang dinukil oleh Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) dalam Syarah Ihyâ’, yaitu:
Pertama: Marhalah I’tizâl (Mu’tazilah) yang jelas-jelas sudah beliau tinggalkan (260-300 H).
Kedua: Marhalah menetapkan sifat-sifat ‘aqliyah yang tujuh yaitu: hayât, ‘ilmu, qudrah, Irâdah, samâ’, bashar dan kalâm. Serta menakwilkan sifat-sifat khabariyah, seperti: wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain (300 H – + 320 H).
Ketiga: Menetapkan semua sifat-sifat Allâh tanpa takyîf dan tasybîh sebagaimana madzhab salaf, yaitu manhaj beliau yang ditulis dalam kitâbnya yang terakhir, “Al-Ibânah”[2] (320-324/330 H). (rinciannya ada di buku saya Abu Hasan al-Asy’ari Imam Yang Terzhalimi, hal. 19-32)
ini sudah sesuai dengan yang ada dalam ithhaf as-saadah. adapun
قال السيد محمد بن محمد الحسيني الزبيدي المعروف بمرتضى في كتابه (إتحاف السادة المتقين بشرح أسرار أحياء العلوم 2/3). نقلا عن الحافظ ابن كثير:قال ابن كثير: ذكروا للشيخ أبي الحسن الأشعري ثلاثة أحوال أولها حال الإعتزال التى رجع عنها لا محالة والحال الثاني إثبات الصفات العقلية السبعة وهي الحياة والعلم والقدرة والإرادة والسمع والبصر والكلام وتأويل الخبرية كالوجه واليدين والقدم والساق ونحو ذلك والحال الثالث إثبات ذلك كله من غير تكييف ولا تشبيه جريا على منوال السلف وهي طريقته في الإنابة التي صنّفها آخرا) أهـ
ustadz juga menulis:
3. Adapun pernyataan penulis bahwa tesis perjalanan pemikiran imam Asy’ari yang 3 fase itu disebarluaskan oleh wahhabi (h. 39, maka ini mengesankan sentimen penulis terhadap wahhabi cukup tingggi, sebab Ibnu Katsîr j (774 H) dan Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) bukan wahhabi dan tidak mengenal wahhabi. Juga tidak setiap orang yang mengingkari adanya 3 fase itu bukan salafi, sebab masalah periodesasi itu ijtihad, yang penting sepakat bahwa antara kitab-kitab awal pasca mu’tazilah yang belum berintisab dengan Imam Ahmad dengan kitab-kitab akhir setelah berintisab dengan imam Ahmad ada perbedaan, yaitu yang akhir lebih kental kepada salaf ahli hadits, dan menyatakan diri mengikut ucapan mereka.
Ini sudah benar. mengutip ucapan itu yang benar saja, yang tidak benar tidak mesti sikutip dan tidak boleh diikuti. Tidak ada kelaziman untuk mengikuti semua pendapat seseorang.
kembali ke persoalan: tujuan dari pembahasan itu adalah membuktikan adanya 3 fase pemikiran imam asy’ari rahimahullah: i’tizal, keluar dari i’tizal kemudian intisab kepada imam Ahmad rahimahullah. Dan ini diucapkan oleh ibnu katsir dan dikutib oleh az-zabidi. Sudah jelas? -
#7 written by abahe shofy 11 months ago
@aswaja or ahmad : mending anda sampaikan yang anda tahu perkataan idrus bagaimana sebenarnya biar bisa pengunjung seperti saya ini dapat menilai yang menggunakan dalil yang paling benar yang mana ust. agus hasan bashori atau idrus…
betul, yang kami tayangkan adalah apa yang kami ketahui itu benar, adapun jika ada pihak yang mengatakan ada kebenaran lain, monggo asal pakai bukti. kami nantikan pembuktian kesalahan dari makalah ustadz agus hasan bashori. jika tidak ada berarti ya memang benar apa yang beliau tulis.
-
#8 written by aswaja 12 months ago
apanya yg tdk transparan? kalo yg dihadirkan hanya versi agus hasan bashori ya siapapun bs? harus balance lah..! anda hadir tdk waktu bedah buku tsb? apa anda bs menjadi mediator pertemuan ust.idrus dg agus hasan bashori? kami siap!
alhamdulillah ana hadir. akhi, ana kurang faham maksud antum versi agus hasan bashori itu yang bagaimana? kalau masalah mediator maka web ini bisa menjadi mediator untuk diskusi ilmiah tentang masalah apapun dari agama kita ini. ana yakin antum sepakat dengan ana bahwa tujuan kita adalah memahami yang benar sesuai dengan dalail-dalil yang teruji. maka media apapun yang mengantarkan kepada tujuan tersebut maka baik dan kita tempuh. semoga Allah menjadikan kita semua sebagai ahlussunnah sejati tanpa kecampuran hal-hal yang merusak atau mencedrainya.
-
#9 written by ahmad 1 year ago
hehe..
jangan maen tulis disini secara sepihak tanpa menghadirkan dalil dr ust.idrus. justru anda yg kurang transparan. siapapun yg telah menyaksikan bedah buku tsb niscya dia tau kejahilan agus hasan bashori..sabar akhi ahmad.
alhamdulillah atas nikmat sunnah.
apa yang kita tulis itu adalah makalah yang dibagikan waktu itu.
jika akhi berkata kami kurang transparan, justru ucapan akhi yang kurang transparan, yaitu ucapan “siapapun yang yang telah menyaksikan bedah buku tsb niscaya dia tahu kejahilan agus hasan bashori.”
Didn't find any related posts :(