Oleh : Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi
Ahlul bait
digunakan untuk makna yang banyak, dan yang dimaksud dengan
Ahlul bait
disini adalah
Alu Muhammad
-Shalallahu alaihi wa salam-. Dan istilah
Ahlul bait
memiliki makna yang berbeda-beda sesuai dengan bentuk susunan kalimat. Para ulama ahli
lughah
dan agama telah sepakat bahwa
Ahlul bait
seseorang itu mencakup istri-istrinya. Semua ini telah tetap dan diketahui di dalam bahasa Arab, dan memiliki dalil-dalil yang kuat didalam al-Qur`an dan Sunnah Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. Di antara makna-makna ahlul bait tersebut adalah sebagai berikut:
1. Seorang itu sendiri.
Seperti kandungan sabda Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-:
В«ЩЉЩЋШ§ ШЈШЁЩЋШ§ Щ…ЩЏЩ€Щ’ШіЩ‰ЩЋШЊ Щ„ЩЋЩ‚ЩЋШЇЩ’ ШЈЩЏЩ€Щ’ШЄЩђЩЉЩ’ШЄЩЋ Щ…ЩђШІЩ’Щ…ЩЋШ§Ш±Ш§Щ‹ Щ…ЩђЩ†Щ’ Щ…ЩЋШІЩЋШ§Щ…ЩђЩЉЩ’Ш±Щђ ШўЩ„Щђ ШЇЩЋШ§Щ€ЩЏШЇЩЋВ»
“Wahai AbГ» Musa, sungguh engkau telah diberi sebuah (suara yang nyaring dan merdu seperti) seruling dari seruling-seruling keluarga DГўwud.” (HR. Bukhari (IV/1925), Muslim (I/456))
Yang dimaksud disini adalah DГўwud Ш› itu sendiri, karena dialah yang diberi suara indah oleh Allah -Subhanahu wata’ala- .
2. Istri-istri seseorang.
Makna inilah yang paling banyak digunakan. Salah seorang ahli lughah yang terkenal, al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi (175 H) didalam kitabnya al-’Ain (45) berkata: [ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ ] : [ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ЩЏ Ш§Щ„Ш±Щ‘ЩЋШ¬ЩЏЩ„Щђ ] : istrinya, dan orang yang paling khusus dengannya; dan [ Ш§Щ„ШЄЩ‘ЩЋШЈЩЋЩ‡Щ‘ЩЏЩ„ ] artinya [ Ш§Щ„ШЄЩ‘ЩЋШІЩЋЩ€Щ‘ЩЏШ¬ ] : menikah; dan [ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ЩЏ Ш§Щ„Щ’ШЁЩЋЩЉЩ’ШЄЩђ ]: penghuninya.
ImГўm Muslim / telah meriwayatkan didalam Shahih nya (IV/2282; 2972) dari ‘Aisyah Щѓ dia berkata:
В« ШҐЩђЩ†Щ’ ЩѓЩЏЩ†Щ‘ЩЋШ§ ШўЩ„ЩЋ Щ…ЩЏШЩЋЩ…Щ‘ЩЋШЇЩЌ < Щ„ЩЋЩ†ЩЋЩ…Щ’ЩѓЩЏШ«ЩЏ ШґЩЋЩ‡Щ’Ш±Щ‹Ш§ Щ…ЩЋШ§ Щ†ЩЋШіЩ’ШЄЩЋЩ€Щ’Щ‚ЩђШЇЩЏ ШЁЩђЩ†ЩЋШ§Ш±ЩЌ ШҐЩђЩ†Щ’ Щ‡ЩЏЩ€ЩЋ ШҐЩђЩ„Щ‘ЩЋШ§ Ш§Щ„ШЄЩ‘ЩЋЩ…Щ’Ш±ЩЏ Щ€ЩЋШ§Щ„Щ’Щ…ЩЋШ§ШЎЩЏ В»
“Sungguh kami keluarga Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-, benar-benar berdiam selama sebulan tanpa menghidupkan api (untuk membuat makanan), yang ada hanyalah kurma dan air.”
ImГўm al-Bukhari / telah meriwayatkan didalam Sha h Г® h nya (II/729) dari Anas Ш· dia berkata:
В« ШіЩЋЩ…ЩђШ№Щ’ШЄЩЏЩ‡ЩЏ (ШЈЩЉ Ш§Щ„Щ†ШЁЩЉ) ЩЉЩЋЩ‚ЩЏЩ€Щ„ЩЏ : В« Щ…ЩЋШ§ ШЈЩЋЩ…Щ’ШіЩЋЩ‰ Ш№ЩђЩ†Щ’ШЇЩЋ ШўЩ„Щђ Щ…ЩЏШЩЋЩ…Щ‘ЩЋШЇЩЌ < ШµЩЋШ§Ш№ЩЏ ШЁЩЏШ±Щ‘ЩЌ Щ€ЩЋЩ„ЩЋШ§ ШµЩЋШ§Ш№ЩЏ ШЩЋШЁЩ‘ЩЌ В» Щ€ЩЋШҐЩђЩ†Щ‘ЩЋ Ш№ЩђЩ†Щ’ШЇЩЋЩ‡ЩЏ Щ„ЩЋШЄЩђШіЩ’Ш№ЩЋ Щ†ЩђШіЩ’Щ€ЩЋШ©ЩЌ В»
“Aku pernah mendengar beliau (Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-) bersabda: “Tidak ada satu sha’ pun dari gandum, dan bijian (lain) yang menginap di sisi keluarga Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-.” Padahal disisi beliau -Shalallahu alaihi wa salam- ada sembilan orang istri.” Jadi ini adalah bukti nyata bahwa istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- masuk dalam sebutan Alu Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-.
Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman:
ЩЉЩЋШ§ Щ†ЩђШіЩЋШ§ШЎЩЋ Ш§Щ„Щ†Щ‘ЩЋШЁЩђЩЉЩ‘Щђ Щ„ЩЋШіЩ’ШЄЩЏЩ†Щ‘ЩЋ ЩѓЩЋШЈЩЋШЩЋШЇЩЌ Щ…ЩђЩ†ЩЋ Ш§Щ„Щ†Щ‘ЩђШіЩЋШ§ШЎЩђ ШҐЩђЩ†Щђ Ш§ШЄЩ‘ЩЋЩ‚ЩЋЩЉЩ’ШЄЩЏЩ†Щ‘ЩЋ ЩЃЩЋЩ„Ш§ ШЄЩЋШ®Щ’Ш¶ЩЋШ№Щ’Щ†ЩЋ ШЁЩђШ§Щ„Щ’Щ‚ЩЋЩ€Щ’Щ„Щђ ЩЃЩЋЩЉЩЋШ·Щ’Щ…ЩЋШ№ЩЋ Ш§Щ„Щ‘ЩЋШ°ЩђЩЉ ЩЃЩђЩЉ Щ‚ЩЋЩ„Щ’ШЁЩђЩ‡Щђ Щ…ЩЋШ±ЩЋШ¶ЩЊ Щ€ЩЋЩ‚ЩЏЩ„Щ’Щ†ЩЋ Щ‚ЩЋЩ€Щ’Щ„Ш§ Щ…ЩЋШ№Щ’Ш±ЩЏЩ€ЩЃЩ‹Ш§ (32) Щ€ЩЋЩ‚ЩЋШ±Щ’Щ†ЩЋ ЩЃЩђЩЉ ШЁЩЏЩЉЩЏЩ€ШЄЩђЩѓЩЏЩ†Щ‘ЩЋ Щ€ЩЋЩ„Ш§ ШЄЩЋШЁЩЋШ±Щ‘ЩЋШ¬Щ’Щ†ЩЋ ШЄЩЋШЁЩЋШ±Щ‘ЩЏШ¬ЩЋ Ш§Щ„Щ’Ш¬ЩЋШ§Щ‡ЩђЩ„ЩђЩЉЩ‘ЩЋШ©Щђ Ш§Щ„ШЈЩ€Щ„ЩЋЩ‰ Щ€ЩЋШЈЩЋЩ‚ЩђЩ…Щ’Щ†ЩЋ Ш§Щ„ШµЩ‘ЩЋЩ„Ш§Ш©ЩЋ Щ€ШўШЄЩђЩЉЩ†ЩЋ Ш§Щ„ШІЩ‘ЩЋЩѓЩЋШ§Ш©ЩЋ Щ€ЩЋШЈЩЋШ·ЩђШ№Щ’Щ†ЩЋ Ш§Щ„Щ„Щ‘ЩЋЩ‡ЩЋ Щ€ЩЋШ±ЩЋШіЩЏЩ€Щ„ЩЋЩ‡ЩЏ ШҐЩђЩ†Щ‘ЩЋЩ…ЩЋШ§ ЩЉЩЏШ±ЩђЩЉШЇЩЏ Ш§Щ„Щ„Щ‘ЩЋЩ‡ЩЏ Щ„ЩђЩЉЩЏШ°Щ’Щ‡ЩђШЁЩЋ Ш№ЩЋЩ†Щ’ЩѓЩЏЩ…ЩЏ Ш§Щ„Ш±Щ‘ЩђШ¬Щ’ШіЩЋ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ЩЋ Ш§Щ„Щ’ШЁЩЋЩЉЩ’ШЄЩђ Щ€ЩЋЩЉЩЏШ·ЩЋЩ‡Щ‘ЩђШ±ЩЋЩѓЩЏЩ…Щ’ ШЄЩЋШ·Щ’Щ‡ЩђЩЉШ±Щ‹Ш§(33)
“ Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab: 32-33)
Yang dimaksud dengan bait disini adalah rumah Nabi dan rumah-rumah tempat tinggal istri-istri beliau -Shalallahu alaihi wa salam-. Dan tidak diragukan serta disangsikan lagi bahwa arah pembicaraan dua ayat ini adalah kepada mereka.
Orang-orang Rafidhah mengatakan bahwasannya Dia ingin memasukkan selain istri-istri Nabi bersama mereka dalam ayat tersebut dengan dalil bahwa Dia berfirman [ Ш№ЩЋЩ†Щ’ЩѓЩЏЩ…Щ’ ] “Dari kalian (laki-laki)” dan bukan [ Ш№ЩЋЩ†Щ’ЩѓЩЏЩ†Щ‘Щђ ] “Dari kalian (perempuan)” .
Maka kita katakan: “Ini adalah sebuah kebodohan terhadap bahasa Arab, sesungguhnya tidak ada di dalam lafazh [ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ЩЏ Ш§Щ„Щ’ШЁЩЋЩЉЩ’ШЄЩђ ] ta’nits (tanda atau penyebutan perempuan), maka tidak benar kalau digunakan penyebutan perempuan dalam menujukan arah pembicaraan, akan tetapi yang benar adalah menggunakan bentuk jama’ mudzakkar .
Misalnya firman Allah -Subhanahu wata’ala- tentang perkataan Sarah yang artinya:
“ Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya Ini benar-benar suatu yang sangat aneh. Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Hud: 72-73)
Sudah dimaklumi bahwa arah pembicaraan tersebut ditujukan kepada Sarah, istri Nabi Ibrahim Ш› sendiri. Dialah yang dimaksud dengan Ahlul bait Ibrahim Ш› . Sekalipun demikian, para malaikat berkata kepadanya [ Ш№ЩЋЩ„ЩЋЩЉЩ’ЩѓЩЏЩ…Щ’ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ЩЋ Ш§Щ„Щ’ШЁЩЋЩЉЩ’ШЄЩђ ] “Dicurahkan atas kalian (laki-laki), wahai ahlul bait”. Dikarenakan inilah yang terkandung dalam bahasa Arab. Tidak seperti persangkaan orang-orang Rafidhah bahwa yang benar adalah mereka mengatakan: [ Ш№ЩЋЩ„ЩЋЩЉЩ’ЩѓЩђ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ЩЋ Ш§Щ„Щ’ШЁЩЋЩЉЩ’ШЄЩђ ] “Dicurahkan atasmu (perempuan) ahlul bait” atau [ Ш№ЩЋЩ„ЩЋЩЉЩ’ЩѓЩђ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ЩЋШ©ЩЏ Ш§Щ„Щ’ШЁЩЋЩЉЩ’ШЄЩђ ] “Dicurahkan atasmu (perempuan) ahlul bait (perempuan)!”
Al- H akГ®m at-Turmudzi berkata dalam NawГўdir al-UshГ»l fГ® AhГўdГ®ts ar-RasГ»l (III/69): “Dan ini adalah sebuah kalimat yang tersusun sebagiannya atas pengaruh sebagian yang lain.” Maka bagaimana mungkin arah pembicaraan ayat ini yang seluruhnya tertuju kepada istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- sebelum dan sesudahnya, kemudian di tengah-tengahnya dipalingkan kepada yang selain mereka?! Padahal pembicaraan ini tersusun di atas susunan dan aturan satu, dikarenakan Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman: [ Щ„ЩђЩЉЩЏШ°Щ’Щ‡ЩђШЁЩЋ Ш№ЩЋЩ†Щ’ЩѓЩЏЩ…ЩЏ Ш§Щ„Ш±Щ‘ЩђШ¬Щ’ШІЩЋ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ЩЋ Ш§Щ„Щ’ШЁЩЋЩЉЩ’ШЄЩђ ] “hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait.” Kemudian Dia berfirman: [ Щ€ЩЋЩ‚ЩЋШ±Щ’Щ†ЩЋ ЩЃЩђЩЉЩ’ ШЁЩЏЩЉЩЏЩ€Щ’ШЄЩђЩѓЩЏЩ†Щ‘ЩЋ ] “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.” Maka bagaimana mungkin [ ЩѓШ§ЩЃ ] yang kedua ditujukan kepada istri-istri Nabi sementara yang pertama ditujukan kepada Ali dan Fathimah -Radiallahuanhuma- ?! Lalu di mana penyebutan keduanya di dalam ayat ini?
Apabila dikatakan, jika pembicaraan ini ditujukan kepada istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, mengapa Dia berfirman: [ Щ„ЩђЩЉЩЏШ°Щ’Щ‡ЩђШЁЩЋ Ш№ЩЋЩ†Щ’ЩѓЩЏЩ…Щ’ ] “hendak menghilangkan dari kalian (laki-laki)” dan tidak berfirman [ Ш№ЩЋЩ†Щ’ЩѓЩЏЩ†Щ‘ЩЋ ]: Dari kalian (perempuan) ? Maka kita katakan, penyebutannya itu dipalingkan kepada kata [ Ш§Щ„ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ ], dan [ Ш§Щ„ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ ] bersifat mudzakkar (bentuk laki-laki), maka mereka disifati dengan nama mudzakkar sekalipun mereka adalah wanita.
Telah diriwayatkan dari Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bahwa tatkala ayat ini turun kepada beliau -Shalallahu alaihi wa salam-, masuklah menemui beliau Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain Щ† . Kemudian Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- menuju ke sebuah pakaian kemudian menyelimutkan kepada mereka semua kemudian memberikan isyarat ke langit seraya bersabda:
В« Ш§Щ„Щ„Щ‘ЩЋЩ‡ЩЏЩ…Щ‘ЩЋ Щ‡ЩЋШ¤ЩЏЩ„ЩЋШ§ШЎЩђ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ЩЏ ШЁЩЋЩЉЩ’ШЄЩђЩЉ Щ€ЩЋШ®ЩЋШ§ШµЩ‘ЩЋШЄЩђЩЉ ШЈЩЋШ°Щ’Щ‡ЩђШЁЩ’ Ш№ЩЋЩ†Щ’Щ‡ЩЏЩ…Щ’ Ш§Щ„Ш±Щ‘ЩђШ¬Щ’ШіЩЋ Щ€ЩЋШ·ЩЋЩ‡Щ‘ЩђШ±Щ’Щ‡ЩЏЩ…Щ’ ШЄЩЋШ·Щ’Щ‡ЩђЩЉШ±Щ‹Ш§ В» Ш±Щ€Ш§Щ‡ Ш§Щ„ШЄШ±Щ…Ш°ЩЉ (3806) Щ€Щ‚Ш§Щ„: Щ‡Ш°Ш§ ШШЇЩЉШ« ШШіЩ† ШµШЩЉШ Щ€ЩЋЩ‡ЩЏЩ€ЩЋ ШЈЩЋШЩ’ШіЩЋЩ†ЩЏ ШґЩЋЩЉЩ’ШЎЩЌ Ш±ЩЏЩ€ЩђЩЉЩЋ ЩЃЩђЩЉ Щ‡ЩЋШ°ЩЋШ§ Ш§Щ„Щ’ШЁЩЋШ§ШЁЩђ Ш› Щ€ШЈШЩ…ШЇ (25339,25383)
“Ya Allah, mereka adalah Ahlul bait- ku, dan orang-orang terdekatku, hilangkanlah dari mereka dosa, dan sucikanlah mereka dengan sebersih-bersihnya.” (HR. Turmudzi (3806), dan dia berkata: Ini adalah h adГ®ts hasan sha h Г® h , dan h adГ®ts ini adalah riwayat yang terbaik dalam bab ini; Ahmad (25383, 25339))
Maka ini adalah do’a beliau -Shalallahu alaihi wa salam- bagi mereka setelah turunnya ayat tersebut. Beliau senang memasukkan mereka kedalam ayat yang ditujukan kepada istri-istri beliau Щ† tersebut.
H adГ®ts- h adГ®ts sha h Г® h telah menetapkan kejelasan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan urusan istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- secara khusus bukan selain mereka.
Telah datang riwayat di dalam Siyar A’lГўm an-NubalГў` (II/208), TГўrГ®kh Dimasyq (LXIX/150), dan tafsir Ibnu Abi Hatim, dia berkata, dari Ibnu ‘Abbas Щ… :
ШҐЩђЩ†Щ‘ЩЋЩ…ЩЋШ§ ЩЉЩЏШ±ЩђЩЉШЇЩЏ Ш§Щ„Щ„Щ‘ЩЋЩ‡ЩЏ Щ„ЩђЩЉЩЏШ°Щ’Щ‡ЩђШЁЩЋ Ш№ЩЋЩ†Щ’ЩѓЩЏЩ…ЩЏ Ш§Щ„Ш±Щ‘ЩђШ¬Щ’ШіЩЋ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ЩЋ Ш§Щ„Щ’ШЁЩЋЩЉЩ’ШЄЩђ
Dia berkata: “Turun kepada Istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- secara khusus.” Kemudian berkatalah ‘Ikrimah: “Bahwasannya ayat tersebut turun berkenaan dengan istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- secara khusus.”
Ini adalah h adГ®ts sha h Г® h yang tidak bisa disangkal di dalamnya. ImГўm Adz-DzahabГ® / berkata di dalam Siyar A’lГўm an NubalГў` (II/221): “Sanadnya shalih, dan bentuk ayat telah menunjukkannya.”
Dan telah diketahui oleh para ulama bahwasannya perkataan para sahabat tentang sabab nuzul ayat memiliki hukum marfu’ kepada Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, dikarenakan para sahabat menyaksikan turunnya ayat tersebut.
Penguat hal tersebut adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari jalan Sa’id ibn Jubair dari Ibnu ‘Abbas Щ… dia berkata: “Turun kepada istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-.” Dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari ‘Ikrimah dia berkata: “Tidak seperti pendapat kalian, akan tetapi sebab turunnya ayat tersebut adalah kepada istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-.” At-Thabari / di dalam tafsirnya (XXII/8) meriwayatkan dari ‘Alqamah, dia berkata: “Ikrimah menyeru di tengah pasar bahwa ayat:
ШҐЩђЩ†Щ‘ЩЋЩ…ЩЋШ§ ЩЉЩЏШ±ЩђЩЉШЇЩЏ Ш§Щ„Щ„Щ‘ЩЋЩ‡ЩЏ Щ„ЩђЩЉЩЏШ°Щ’Щ‡ЩђШЁЩЋ Ш№ЩЋЩ†Щ’ЩѓЩЏЩ…ЩЏ Ш§Щ„Ш±Щ‘ЩђШ¬Щ’ШіЩЋ ШЈЩЋЩ‡Щ’Щ„ЩЋ Ш§Щ„Щ’ШЁЩЋЩЉЩ’ШЄЩђ
Turun berkenaan dengan istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- secara khusus.” (insya Allah bersambung)
Bagaimana dengan kalangan Sayyid / Syarifah dan Habieb apakah mereka-mereka itu di golongkan dalam Ahlul Bait,…..???