KESIMPULAN FORUM TABAYYUN DAN DIALOG TERBUKA
ANTARA JARINGAN ISLAM LIBERAL DAN FORUM KIAI MUDA JAWA TIMUR
DI PP BUMI SHOLAWAT, TULANGAN, SIDOARJO, JAWA TIMUR
AHAD, 11 OKTOBER 2009
Dewasa ini sedang berlangsung perang terbuka dalam pemikiran (ghazwul fikri) pada tataran global. Melalui sejumlah kampanye dan agitasi pemikiran seperti perang melawan terorisme dan promosi ide-ide liberalisme politik dan ekonomi neo-liberal, Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia berupaya menjinakkan ancaman kelompok-kelompok radikal, memanas-manasi pertikaian di antara kelompok radikal dan moderat dalam tubuh umat Islam, serta menyeret umat Islam dan bangsa ini ikut menjadi proyek liberal mereka.
Dengan memperhatikan perkembangan global tersebut, dan terdorong oleh kepentingan membela Tradisi Ahlussunnah Waljamaah yang dianut oleh Warga NU sebagai bagian dari identitas dan jatidiri bangsa ini, Forum Kiai Muda Jawa Timur memberikan kesimpulan tentang hasil-hasil dialog dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai berikut:
1. Sdr. Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya tidak memiliki landasan teori yang sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak berupa kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan hanya sebagai pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung musim dan waktu (zhuruf), dan pesan sponsor yang tidak berakar dalam tradisi berpikir masyarakat bangsa ini.
2. Pada dasarnya pemikiran-pemikiran JIL bertujuan untuk membongkar kemapanan beragama dan bertradisi kaum Nahdliyin. Cara-cara membongkar kemapanan itu dilakukan dengan tiga cara: (1) Liberalisasi dalam bidang aqidah; (2) Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran; dan, (3) Liberalisasi dalam bidang Syariat dan Akhlaq.
3. Liberalisasi dalam bidang aqidah yang diajarkan JIL, misalnya bahwa semua agama sama, dan tentang pluralisme, bertentangan dengan aqidah Islam Ahlussunnah Waljamaah. Warga NU meyakini agama Islam sebagai agama yang paling benar, dengan tidak menafikan hubungan yang baik dengan penganut agama lainnya yang memandang agama mereka juga benar menurut mereka. Sementara ajaran pluralisme yang dimaksud JIL berlainan dengan pandangan ukhuwah wathaniyah yang dipegang NU yang mengokohkan solidaritas dengan saudara-saudara sebangsa. NU juga tidak menaruh toleransi terhadap pandangan-pandangan imperialis neo-liberalisme Amerika yang berkedok “pluralisme dan toleransi agama”.
4. Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran yang diajarkan JIL, misalnya al-Quran adalah produk budaya dan keotentikannya diragukan, tentu berseberangan dengan pandangan mayoritas umat Islam yang meyakini al-Quran itu firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan terjaga keasliannya.
5. Liberalisasi dalam bidang syari’ah dan akhlaq dimana JIL mengatakan bahwa Hukum Tuhan itu tidak ada, jelas bertolak belakang dengan ajaran Al Qur’an dan Sunnah yang mengandung ketentuan hukum bagi umat Islam. JIL juga mengabaikan sikap-sikap tawadhu’ dan akhlaqul karimah kepada para ulama, kiai. JIL juga tidak menghargai tradisi pesantren sebagai modal sosial bangsa ini dalam mensejahterakan bangsa dan memperkuat Pancasila dan NKRI.
6. Ide-ide liberalisasi, kebebasan dan hak asasi manusia (HAM) yang diangkat oleh kelompok JIL dalam konteks NU dan pesantren tidak bisa dilepaskan dari Neo-Liberalisme yang berasal dari dunia kapitalisme, yang mengehendaki agar para kiai dan komunitas pesantren tidak ikut campur dalam menggerakkan tradisinya sebagai kritik dan pembebasan dari penjajahan dan kerakusan kaum kapitalis yang menjarah sumber-sumber daya alam bangsa kita..
7. JIL cenderung membatalkan otoritas para Ulama Salaf dan menanamkan ketidakpercayaan kepada mereka, sementara di sisi lain mereka mengagumi pemikiran orientalis Barat dan murid-muridnya seperti Huston Smith, John Shelby Spong, Nasr Hamid Abu Zaid dan sebagainya.
8. Menghadapi Pemikiran-pemikiran JIL tidak dilawan dengan amuk-amuk dan cara-cara kekerasan, tapi harus melalui pendekatan yang strategis dan taktis, dengan dialog-dialog dan pencerahan.
Forum Kiai Muda Jawa Timur,
Tulangan, Sidoarjo, 11 Oktober 2009
(demikian kiriman dari Sdr. Nurkhalis Surabaya)
« SYI’AH DAN SABA’IYAH mewaspadai gerakan kontekstualisasi al-Qur`an »
Ulil sebenarnya sama dengan temen-teman HMI yang telah mengagumi CakNur Cholis Masjid (khususnya) Materi Nilai Dasar Perjuangan HMI (NDP HMI) Cuman Ulil latar belakangnya dari NU Tulen (kaum kampungan pinggiran, Jumod Sarungan Manut ngendiko sopo dawuh, terkukung, terbelenggu selama masih nyantri tidak bebas/meng ekspresikan pemikiran) sehingga setelah ke perguruan tinggi sangat briontak kegirangan setelah dicekoki Filsafat barat. orang latar belakang NU yang jummud seperti Ulil ini banyak menjadi korban contoh mencolok diantaranya adalah Ulil…
Metode Filsafat yang saya pelajari di HMI Baik LK I Maupun LK II adalah sangat menyesatkan khususnya mahasiswa akidahnya yang masih lemah kebetulan saya pernah belajar “Islam arab” sudah mempunyai dasar meskipun masih minim sehingga saya sering kontraevrsial debat dengan Tokoh-tokoh HMI ketika LK di Wisma PP. Gontor Ponoroga ketika itu. dan saya membuat sebuah makalah yang berjudul “koreksi kritis tentang NDP HMI”
dan pada umumnya mereka Leberal
Akan saya singgung tetantang Kaidah Filsafat, karena FILSAFAT mempunyai KAIDAH tersendiri sebagaimana berikut:
1. Flsafat adalah suatu proses mencari kebenaran a. secara Sistematis b. Radikal c. dan yuniversal
tiga KAIDAH inilah sebagai Kerangka cara berpikir Mereka, kenapa kalau mereka diskusi atau debat tidak konsisten atau terfokus dalam suatu permasalahan (sistematis Ilmiah) comot sana comot sini ketika mereka terdesak sehingga keluar dari koridor permasalahan yang dibahas sebelum tuntas, karena kerangka cara berpikirnya kampungan.
Saya mengutip Perkataan Ulil Absor Abdalla “dia menyatakan begini kurang lebihnya… “mereka para Tokoh NU bisa membelunggu saya tetapi mereka tidak mampu menghalangi pemikiran saya” inilah bentuk kekagetan/kekaguman Ulil terhadap Kaidah Filsafat yang masuk terhadap jiwanya SESAT TANPA SADAR kalo orang akidahnya sudah benar langsung responsif dan peka/mampu menfilternya terhadap subhat-subhat yang masuk. wajar kampungan kena metode Filsafat yaaa mudah terpukau ya saya memaklumi latar belakang Ulil sama dengan saya sama-sama NU sekarang saya sadar
kalau saya lihat dari kalangan NU sendiri melawan Ulil kurang berdaya sebaiknya NU bisa Kontrak atau minta Tolong dihadapkan Ust. Hartono Ahmad Jaiz dan DR. Adian Husani kalo gak mampu dari NU sendiri telinga Ulil akan mengkeret baik Ulil maupun kader-kader NU lainnya ………… Silahkan dibuktikan Oke……….. Sukron
Islam Kontekstual yang diusung oleh Ulil akan mengalami pembusukan karena mendapat perlawanan MUI dan kelompok Islam minoritas (islam morerat) islam kekinian perpaham Wahabi tinggal pengemasannya untuk menarik bagi para konsumen Sebagai objek (NU dan Muhammadiyah) bagi kalangan pelajar memangnya Ulil dengan JIL nya lebih menaraik tetapi dalam tataran dan keilmiahannya secara mendalam mereka (JIL) mudah dipatahkan karena JIL tidak mempuyai Kaidah /Uhsul cara berpikir yang Kuat dan mematahkan JIL cukup dengan Konsep Tekstual dan dalam tataran Kontekstaul dengan kemapuan yang seimbang JIL otomatis kehilangan arah yang jelas kareana tataran ini dapat diperolah secara probolitas sosial masyarakat. dan perbandingan Islam Liberal dan Jaringan Islam Kultural sama-mengabaikan Tekstual yang sudah final dalam arti hikmah (wasathoh) perpaduan Antara Dalil Nakli dan Akli (maksudnya mendahulukan Nakli daripada Akli kata lain Akli dikalahkan/ditundukan dalil Nakli) Sedangkan dua kelompok Jaringan Islam Liberal dan JIK sama-sama Mengabaikan Teks (Firman ALLah)Tuhan sebagaimana Jariangan Moderat (JIM) mengambil Jalan Tengah (wasat) Ahlussunnah Waljama’ah.
Saya berharap kepada Ihkwan2 Khusus NU yang mampu menjinakkan JIL yang lebih tepat dari kalangan NU sendiri secara kultur sama insya’Allah dari kader ada Ulil-Ulil tangdingan sebagaimana sejarah juga demikian Sukron selamat Berjuangan NU masa Depan lebih diperhitung secara Kwalitas bukan serti salama ini hanya sebagai Obejk !
Trima kasih dan saya bersukur dengan diadakannya Forum Dialog Terbuka antara JIL & Kiyai Muda NU Jatim.
Dan saya sangat berharap terhadap para Kiyai2/Tokoh2 NU dan Kader Muda NU untuk membendung Liberalisme di masyarakat/secara otomatis NU karena Mayoritas. kemudian kalo saya boleh ushul semua para Kiyai & kader2 NU sepakat memblokade JIL dengan Cara
1. Bahwa Ulil dan JIL nya adalah sesat dan menyesatkan sesuai hukum nas-nas yang ada “innadiina
indallahil islam…..”
2. Menekan secara Nasional/Internasional “melalui Media Masa/cetak/ elektronik jagan dbesar2kan
3. NU /Kiyai jangan mudah dirayu/di iming-iming dengan apa saja untuk mendung Ulil /Jilnya
4. Jangan mudah terpancing apabila Ulil/dgn JIlnya, kita sebagai keluarga NU dibenturkan dengan
WAHABI, karena JIL lebih berbahaya daripada yang lain…. Contoh Kader NU tidak mudah
dirayu dengan kelompok2 lain ….tetapi JIL pasti dapat dengan mudah menyusup di kemunitas
NU.
Bahwa Ulil dan JILnya secara argumen/kemampuan jauh lebih kuat Gus A’ab karena JIl menang di dalam hal Publik/Media Ulil telah ditampilan di Media “Seorang Tokoh Muda Intelektual NU” ini sebenrnya pengaruh publik luar biasa ternyata NU sepakat dan bangga punya kader Liberal bisa2 Ulillah Penerus Perjuangan Gus Dur/Gus Dur kedua “sebabnya apa? Medialah yang menetukan Ulil/JIL jadi besar…… Sukron
Maaf Keluarga kita (NU) dibuat Jengkel oleh Kader NU sendiri yaitu KH. Mahrus Ali tentang buku2 beliau yang beredar. saya kira masalah ini gak perlu dibesar-besarkan dan sikapilah dengan terbuka dan jiwa besar sebagaimana fimar Allah SWT. “ud’uu ila sabilirabbikum bil hikmah mau idhotil hasanah wajaadilhum billatii hiya ahsan” bagamanapun H. Mahrus Ali juga kader kita NU mekipun beliau tidak sepaham maka hakikatnya Secara subtansi sama/banyak samanya dari pada JIL yang sudah jauh dari aqidah Islam yang benar dgn bahasa ekstrim Ulil JIL itu tidak beragama tidak perlu diragakan lagi dengan artekel-artikal mereka (JIL). dan saya libih sepakat bahwa Ulil tidak ditanggapi lagi tentang debat karena JIL jelas-jelas kafir “barangsiapa yang menolak Al Qur’an sebagai petunjuk maka mereka adalah kufur” Dan ini tidak perlu diajak diskusi, yang mharus kita lakukan Umat islam adalah perangilah mereka dengan kekuatan apa saja yang kita miliki, JIL termasuk dalam penoda’an agama. dan saya sarankan kapada keluaga NU Ulil dan JILnyalah musuh kita yang sebenarnya daripada Pak H. Mahrus Ali kalau kita memusuhi pak Mahrus Ali justru itu kesalahan besar jangan sebaliknya Ulil kita dukung tapi Pak Maharu Ali kita teror/musuhi. kalau saya telah membaca buku2 beliau dan saya bandingkan dengan buku LBM Jember Buku Pak Mahrus lebih ilmiah, Maaf Teman2 NU yang kurang sepakat dengan kesimpula ana terlepas dari penilaian subejktifitas tapi tolong kita tolaah sama2 dengan lapang dada karena (al-Qur’an) kebenaran tidak akan masuk dalam jiwa kita selama jiwa kita masih Thoqo. (QS: Al-Alaq. 6). karena ini sering terjadi sebelumnya seperti awal-awal Ulil juga ngejoss dan sekarang Gilirannya Pak Mahrus Ali masih hangat2nya. dan kesemuanya tdk lepas dari ushul /punjernya yaitu NU. kemudian ana simpulkan Pak. Mahrus Ali Mengadakan perbaikan sedangkan Mas Ulil mengadakan kerusakan nanti antum bisa saksikan bersama selamat, salamat menyaksikan tampilan (ikon) kader NU berdua mengadakan perubahan pada zamannya Sukron jazaakumullaahu Khoiran,….
Dengan diadakannya dialog terbuka kiyai Muda NU dan Kiyai (kelompok) JIL perlu diperlaus lagi yaitu: Dialog terbuka Kiyai Muda NU dangan Ust Berpaham Wahabi saya kira ini sangat penting sebagai media pendidikan masyarakat luas. dengan media ini insya’Allah lebih tepat daripada cara berdebat di forum terbuka akhirnya yang pendukunnya merasa dikalahkan bersikap anarkis. dan sejauh mana uji keilmiahhannya bisa kita lihat bersama,….secara umum…..
Assalamu’alaikum
Alhamdulillah ternyata prasangka saya terhadap pemuda dan pemuka Nahdlatul Ulama ternyata salah besar karena sebelumnya saya beranggapan bahwa NU memusuhi orang orang yang mengikuti seruan kembali Ke Al-Qur’an dan As-Sunnah oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang oleh orang Syiah dan JIL dikatakan sebagai WAHABI. ternyata pemuda dan pemuka NU tidak termakan ole isu-isu menyesatkan tersebut. sekali lagi ALHAMDULILLAH. marilah kita bersama bersatu memerangi aliran aliran sesat itu dan bersama kembali memurnikan islam dari pengaruh-pengaruh antek antek syaiton. sehingga mudah-mudahan pertolongan ALLAH sampai pada kita dan Islam kembali berjaya dimuka bumi ini Amin. Untuk prasangka saya tersebut diatas mohon dimaafkan.
Alhamdulillah saya telah membaca baik buku salaf maupun buku penyanjung Jil/ dan buku tantang Rujukan mereka (JIL) dan sampai awal mula mazhab mereka para tokoh2 Filsuf/wahdatul wujud. salah satu di antaranya Ibu Aribi pernyataan2 dari dari Mereka .
masalahnya JIL mereka lebih hafal dan faham tentang mereka dari daripada kaum muslimin itu sendiri tidak faham.
bahwa tokoh filsafat cara menafsirkan islam tidak melalui kaidah ilmu yang telah disepakati Ulama’ kaum muslimin ….yang sudah teruji ke otentikannya.. sabgai mana para imam yang empat….
sedangkan mereka para tokoh Filsafat (wahdatul Wujud) /JILcara menafsirkan islam (alQur’an) ini dengan menggunakan Akal, ada yang menggunakan Perasaan, /lintasan2 kejadian2 pengalaman2 melalui meditasi, dan masih banyak kesesatan2 yang lain.. dan lebih parah lagi dpaksakan islam al Qur’ an ini harus menyasuaikan stuasi dan kondisi yang ada (istilah Cak Ulil) kepantsan publik. …
Saya ambil perkataan tokoh utama mereka Ibn Arobi.. berkata dalam kitab mereka “Bahwa mereka (para sahabat) Nabi/ulama’ mengambil ilmu dari mayat kemayat sedangkan aku (Ibn Arobi/sepaham dengannya mengambil ilmu dari yang Maha Hidup tidak pernah mati (Allah) kalau kita perhatikan kata2 ini menurut akidah islam adalah perkataan kufur terhadap kitab/hdist (rosulullah saw) maka wajarlah JIL meng interpretasikan islam itu semau gue… dan ini kalo org awam sangat mudah ter inveksi kalo akidah mereka masih umum…
Dan saya yakin seyakin-yakinnya bahwa JIL meskipun mereka mendapat dukungan media luar biasa mereka tatap gagal dalam percaturan ini sebab secara akidah kropos dan sedah mereka akui dalam tafsir kontektualnya dari segi pengertian islam konservatif maupun islam ekskluf dan mereka perpihak kepda hawa nafsu bukan berpihak kepada kebenaran lihat tafsir hemeneutik, baik teks maupun konteks mana yang lebih menguntugkan mereka pakai…. inilah ciri2 JIL.
maha besar Allah dgn segala firmanNYa…. maka bersatu padulah wahai saudara2ku untuk mengahadapi musuh bersama yg berpenampilan/nama/faham jil dan syi’ah rafidhah…..mereka itu bukan golongan kita, bukan yg termasuk 73 golongan itu…maka dari mana kita menggalang menuju kesatuan sikap dan pandangan ini ? saya mengusulkan membuat panitya bersama mengadakan penyadaran kpd masyarakat berupa seminar2, temu ulama, bedah buku, pameran dll dng menggandeng MUI,DDII …..insya Allah idie ini bisa dilaksanakan sbg upaya bersama…nah diharapkan yas-bilhal dpt berperan aktif untuk wil jaksel …..semoga… menurut ana kondisi ini merupakan momentum dan peluang besar yg harus diambil sbg perwujudan dari amal – jama’i…muslim yg peka tentu bisa melihat kondisi ini sbg peluang yg tidak akan di lewatkan begitu saja…” bertolong tolonganlah kamu dlm kebajikan dan takwa.”..dst, singsingkanlah lengan bajumu wahai pemuda/pemudi harapan agama, di pundakmulah islam di masa depan bergantung….raihlah naungan yg tiada naungan kecuali naungan Allah pada hari kiamat, salah satunya adalah pemuda/pemudi yg hatinya selalu di masjid…. insya Allah akan cerahlah masa depan islam di persada kita…billahit taufiq wal hidayah…. wallahu a’lam bish-showwab….wassalam
maaf pak gangu ya saya ingin megetahui islam yang benar
Sebaik keluarga NU harus menjauhkan dari pemikiran-pemikiran si Ulil, Cak Nur Colis M., Gus Dur, dan masih banyak lagi ….termasuk syafi’i Ma’arif, termasuk Pak Amien Rais, Maksudnya ini dalam tataran pemikiran islam yang menyangkut daerah-daerah tertentu (rawan) yakni akidah islam khususnya yang berhubungan dengan ushul, dan masalah fur’iyah pada umumnya karena orang-orang ,yang saya sebut di atas khususnya tidak mem[punyai .kapasitas bicara agama, tetapi boleh-boleh saja bicara agama yang menyangkut sesuatu sudah jelas misal bahwa shalat berjama’ah itu penting itu (sudah maklum/diketahui semua) sebaiknya masyarakat wajib tau khususnya orang yang sedang menuntut ilmu agar tidak salah langkah, bahwa saya tau mereka2 yang di atas ini bicara lah dengan kapasitasnya, baik budayawan politik, sejarah, pendidikan dan pemikiran (plural filsafat) kalo hal-hal pokok jelimet bukan kapasitas mereka saya tau persis maka ayo kerja samanya untuk memberi pengertian masyarakat islam pada umum dan khususnya pada penuntut ilmu. jangan keblat kepada mereka kecuali hal-hal yang berkenaan dengan bidangnya.
Pernyataan ini bukan niat merendahkan mereka, memang kenyataannya seperti itu agar masyarakat awan tahu, tidak salah pilih dalam menerima islam harus sesuai kepada ahlinya, jadi masyarakat awam bingun.
Dan usaha kita muspro kalau kita umat islam ingin memerangi si Jil tetapi kita tidak tau akan asal mulanya Jil itu terjadi dan tolong kepada Keluarga Besar NU maupun Muhammadiyah apa sebenarnya Jil itu bisa terjadi dan berkembang ? ini konsep yang paling efektif selain di atas yakni reformasi akidah dan kita sendiri belum sadarkan diri sudah betulkah akidah islam kita “jangan2 kita mau memerangi Jil ternyata kita sendiri Jil juga” Jil Tanpa sadar. kita tidak tau hati kita lemah maka dengan kelemahan hati dan akal pikiran tentunya mau tidak mau harus kembali kepada al Qur’an dan as Sunnah yang soheh, hindarkan lah sejauh-jauhnya perasaan setimen,. taklid, ta’asup, fanatik mazhab, partai, golongan , organisasi dsb… hilangmkanlah kesombongan itu semuanya agar al Qur’an/Al Hadist masuk (bisa menerima kebenaran wahyu) Firman Allah: “Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup”. (QS Al Alaq: 6-7) Beda dengan Jil sebagaimana kata si Ulil “bahwa daya kekuatan akal intelektual sama dengan wahyu menurut si Ulil wahyu masih turun, dan hukum Tuhan tidak ada ” …. bahw a pernyataan ini sanngat mwenggelikan maklum emanya bidangnya/kapasitasnya itu ya kelemahannya (kesesatanya) itulah kelebihannya, … sukron.
ya mari kita mari mem bela yang hak dan benar………………………………………………….
“AL QUR’AN” KEBENARAN MUTLAK DUNIA AKHIRAT
SELAINNYA ADALAH KESESATAN & PENYESALAN TIADA TARA
Pembuka wacana public gagasan Faktual dan Tekstual sosiologis serta teologis tak terbanbtahkan oleh stuasi dan kondisi kekinian dan kodisinian.
Ada dua kelompok besar di dunia ini dari segi kepercayaan atau keyakinan baik sudut pandang sosio historis maupun teologis ini sudah terlanjur menggelinding menjadi tren yang selalu tambil di pemukaan public dalam dunia fakir dan zikir umat manusia sepanjang masa. Dua kelompok secara garis besar sebagai berikut:
Kelompok Pertama
Kelompok yang berkeyakinan bahwa di dunia maupun di akhirat ada sebuah kebenaran MUTLAK (ABSOLUD) “kebenaran Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT)” kelompok ini berkeyakinan terhadap kebenaran Tuhan yang bersifat permanen atau beku sebuah kemutlakan baik masa duhulu, sekarang yang akan datang tidak ada tawar menawar, kelompok ini bisa disebut kelompok fondamentalis, orisinil, konservatif, murni dalam teks maupun konteks keaslian dan kemantapan satu-satunya yang membawa kedamian, kemaslahatan, kemakmuran dan dari semua sisi hakikat kebaikan secara universal baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dalam istilah lain “Wala’ wal Bara’”.
Kelompok inilah yang paling kuwalitas bukan kuantitas. Tidak ada duanya, karena dari awal mula keberangkatannya adalah membakukan sebuah konsep dari langit yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada Nabi Akhir zaman dengan melalui malaikat-Nya yakni Al Qur’an Konsep terakhir sebagai penyempurna konsep-konsep sebelumnya termasuk Injil, Zabur suhuf-suhuf. Maka konsep Al Qur’an yang diyakini sepenuhnya akan mutlak kebenaran yang ada padanya. Mereka meyakini kalau tidak beriman berarti kafir sebagai kosekuwensi logis “wamaiyakfur bitthooghuuti wayukmimbillah”. Oleh karena itu Para pemimpin (Imam) kaum muslimin secara subtansi sama dari segi penafsiran tentang pokok agama (ushul) tidak ada perbedaan. Adapun diketemukan perbedaan bukanlah masalah prinsip (pokok) agama yaitu masalah furu’iyah bukan subtansinya maka boleh-boleh saja, karena ini hanya tangkainya, suatu missal perbedaan empat imam/mazhab.
Kelompok ini menerima doktrin-doktrin dimulai dari yang paling pokok atau prisip (ushul) kemudian baru yang cabangnya (furu’) sebagaimana perkataan oran-orang fakih di antara yang penting-penting dahulukanlah yang terpenting tenyunya adalah masalah ushul diutamakan lebih dahulu kemudian baru furu’ dan kebalikan dari kelompok kedua. Sedangkan kelompok kedua bebas, dan tidak mempunyai .kaidah ilmiah yang baku atau adanya ialah kebebasan aliyas acak-acakan maka hasilnya juga tak beraturan semrawut serta ruwet lihat itu? JiL di bawah ini sebagai alasan orang-orang yang berkeyakinan adanya kebenaran mutlak di dunia dan akhirat.!
“Jika kalian beselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kjepada Allah dan rosul-Nya. Jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhirat. (An Nisa’ 59) “Aku tinggalkan di antara kalian dua perkarta yang kalianb tidak akan tersesat selamanya kalian berpegang dengan keduanya, yaitu Al Qur’an dan sunnahku”. (HR Imam Malik)
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat) kemudian sesudahnya (tabi’in) kemudian sesudahnya (tabiut tabi’an)” (HR Bukhori dan Muslim) “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan Kamilah yang menjaganya”. (Al Hijr. 9) “Barangsiapa berbicara tentang Al Qur’an tanpa ilmu maka hendaklah ia duduk di atas pai neraka” (HR Tirmidzi) dengan lafat lain “ Baransiapa berbicara tentang makna Al Qur’an dengan akalnya, jikalau itu benar, ia tetap berbuat kesalahan”. (HR salasah) .. Meskipun itu benar mereka tetap bebrbuat salah. Karena ibaratnya mereka mendatangi permaslahan tidak melalui pintu masuknya. Demikian pula mereka yang menghukumi sesuatu atas dasar kebodohannya, maka akan masuk api nereka.
Kelompok Kedua
Kelompok ini diberangkatkan dari awal mulanya adalah sebuah doktrin-doktrin yang bebas serta mengadopsi model-model barat melalui penelitian-penelitian, diskusi-diskusi yang mengarah kepada keumuman dan kosesnsus serta pendapat public. Bahwa keyakinan mereka tidak ada di dunia ini kebenaran mutlak, maka yang ada di dunia ini ialah kebenaran yang bersifat NISBI (RELATIF) atau kira-kira zhon (persangkaan) mereka mengatakan; benar dan salah, selamat dan sesat itu urusan Tuhan, dan akan kita ketahui benar dan salah itu urusan besuk di akhirat dengan pernyataan ini mereka mengingkari hakikat fitrah itu sendiri sebeb disisi lain mereka mengakui adanya kebenaran mutlak.
Bahwa kebenaran mutlak ialah kebenaran Tuhan Esa, selanjutnya mereka juga mengatakan kalau kita memutlakan sebuah kebenaran berarti kita menyalahkan dan menyesatlan selainya serta merampas hak priogratif Tuhan bahwa kebenaran yang anda yakini adalah sebuah penefsiran anda, maka menafsiran anda tidak lepas dari subyektifitas/pribadi anda yang di latar belakangai sosio histories jadi bersifat relative bukan kemutlakan karena sebuah penafsiran sangat dipengaruhi oleh giografis penafsir dari segi sosio historis dan teologis sebuah teks dan konteks penafsir.
Maka kelompok ini awal menerima sebuah doktrin yang bersifat yunivesal bukan subtansial jadi lebih mengedepankan sosio historis bukan subtansi teologis dalam istilah lain bahwa mereka berpendapat agama islam ini seperti kepercayaan-kepercahan lain. Mereka menginterpretasikan agama dan keyakinan ini, hanya sebuah pendapat dan ekspresi jiwa, persaan, pengalaman, imajinasi dan peristiwa-peristiwa menurut pribadi masing-masing.
Jadi tafsir agama itu ya tergantung pribadi masing-masing maka pada hakikatnya agama itu kebebasan ekspresi jiwa dan emasi, maka dari sinilah letak dasar awal mula menerima islam ini secara global dan lebih mengedepankan ideal moral sosio historis serta tidak mempedulikan secara subtansi teologis sisi tafsir teks maupun konteks kitab yang mana Tuhan maksudkan yang sangat esensi dan asasi. Mereka memandang sebuah keyakinan bukan bersifat trensendental dan prisip Maka wajarlah kelompok ini ketika melihat dalil yang jelas merekapun tidak menghiraukan perintah Tuhan. Sabab apa? Karena agama ini bukan untuk apa-apa dan bukan untuk siapa-siapa tetapi untuk manusia terserah manusianya mau diapakan dan Tuhan tidak mau ikut campur dan pada akhirnya mereka membangkang kemudian memilih kebebasan yakni Liberalisasi minjadi pilihan dan slogan-slogan selalu dipublikasikan dikemas sedemikian rupa dengan bahasa yang begitu memukau bagi kalangan akademika awam.
Sebagaimana Iblis inginnya adalah bebas tidak mau taat, maka dari kesimpulan kelompok ini adalah “keragu-raguan” sedangkan kebenaran Tuhan baik secara teks maupun konteks itu bukan teks dan konteks Tuhan sebab telah diambil alih penafsir yang bersifat yuniversalisme poenafsir itu sendiri yang bersifat nisbi” sementara apa-apa yang mereka tawarkan atau promosikan adalah sebuah kepalsuan yang mereka sendiri tidak meyakini adanya kebenaran firman Tuhan (mutlak) bahwa kelompok ini sangat besar jumlahnya bisa satu banding sepuluh kali lipat kalau masih ragu dalam perbandingan, ini bisa diadakan penelitian dan observasi secara khusus dan mendalam.
Kulturalisme, Liberalisme, Nasionalisme..isme-isme lainnya:
Memang secara keumuman masyarakat dunia global lebih minat dan menerimanya terhadap pemahaman di atas karena ada beberapa sebab:
Pertama: Penjinakan kaum fondamentalis, konservatif
Kedua: Agar membudayakan sifat toleransi
Ketiga: Menghilangkan atau mengkaburkan hal-hal yang bersifat asasi/prinsip kepercayan.
Keempat: Menyuburkan paham pluralisme/relativisme/liberalisme/Nasionalisme, kulturalisme dan Kebaikan serta kebenaran yang bersifat mutlak kemudian dibalik menjadi kebenaran yang bersifat relative /nisbi dan dapat diterima masyarakat (kepantasan public) atau bersifat subjektif.
Kelima: Menghilangkan kebenaran absolud (mutlak) maka target utama adalah tidak adanya hukum Tuhan yang ada adalah sebaliknya yakni hokum buatan manusia atau disebut “manusia sebagai pusat” inilah program yang di usung oleh JiL sebagai agen Yahoo.
Keenam: Mereka memmanfaatkan penguasa (menumpang) sebeb sangat sesuai menurut ke umuman masyarakat demokrasi kususnya di indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya.dengan alasan HAM, emansipasi dan toleransi, Sesuai ideal Moral” inilah yang sedang menggelinding sebagai wacana publik di dalam dunia fikir dan zikir secara global maka hati-hatilah sebab mereka tidak mengakui keotentikan kitab Al Qur’an sebagai kebenaran mutlak.
CARA BERAGAMANYA KAUM ABANGAN
Mereka memandang sesuati kayakinan itu dilihat dari kesakaralan yang bersifst mistik dan kesaktian bagi oarng yang diannggap suci missal kiyai, dukun dan morsyid atau mereka yang mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu yang berdifat keghoiban. Mereka yang menyandang hal-hal tersebut di atas mempunyai pengaruh besar di masyarakat khususnya masyarakat awam/abangan baik social, politik, cultural dimana mereka tinggal. Bagi yang tidak sejalan/sepaham dengannya maka akan dicap kelompok aliran baru (garis keras/wahabi), meskipun sesuai dengan dalil sebab dari awal mula cara memahami dan mengamalkan islam ini dengan cara yang berbeda maka hasil yang didapat juga bertolak belakang.
Dengan model cara beragamannya masyarakat abangan maka lebih tepatnya “Islam cultural dan Islam Libera sama secara subatasi. Maka lawannya adalah Islam Fundamental/konservatif (asli murni/islam salaf) mengikuti para sahabat beliau serta jumhur ulama’.
Dalam wacana kali ini penulis akan membahas secara khusus Islam Kultural dan tidak jauh berdeda dengan Islam Liberal dan pada hakikatnya sama yang membedakan adalah kemasannya/bajunya sebab apa? karena kedua-duanya adalah mengarah kepada pribadi dan kebebasan, memahami dan mengamalkan prinsip-prinsip dasar keyakinan dan tidak mempedulikan Nas-nas Al Qur’an maupun Hadist-hadist yang soheh dari Nabi saw muskipun mengikuti dalil hanya sekedarnya.
Masyarakat cultur telah kita ketahui bahwa cara beragama mereka dengan melalui Parasaan-persaan, pengalaman-penagalaman mistis, bisikan-bisikan, kejadian-kejadian itu seperti dia atas sebagai pembenaran/dalil dan yang bersifat aneh, angan-angan, syak/was-was, mimpi-mimpi, perkataan-perkatan yang diyakini mempunyai keanehan/kesaktian (mengetahui hal-hal yang besifat ghoib) serta melalui imajinasi/meditasi, menyepi tempat-tempat tertentu yang dianggap sacral, sangar/angker, suci petilasan leluhur, peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat sebagai dalil untuk pembenaran agama.
Kalau kita pahami dan telaah cara-cara beragama mereka di atas adalah kebebasan dan kebodohan serta mengikuti hawa nafsu masing-masing sebeb apa? Karena setiap manusia dari segala kelemahan dan keterbatasannya, kalau tidak mengikuti petunjuk pastilah tidak akan pernah sampai kepada tujuan itulah Allah swt memberikan bimbing kepada kita melalui wahyunya Al Qur’an dan As Sunnah Nabi saw.
Akan tetapi ahlul hawa (bid’ah) menolak itu karena kebodohan dan kesesatan mereka sehingga tidak mau mengikuti petunjukNya. Contoh Dengan kisah ini sebagai kebenaran akan keyaklinannya bukan dalil apakah mereka belum tahu kalau agama ini adalah bukan akal dan perasaan pengalaman lapangan contoh lain dalam islam mendatangi dukun/paranormal kan dilarang meskipun ada maslahatnya (bisa menyembuhkan) apakah ini dibenarkan? Tentanya dilarang! Sama dengan kisah karena kisah tersebut bertentangan dengan dalil.
Bahkan ada yang lebih ekstrin lagi mereka merubah dan menambah syari’at Allah secara tidak langsung mereka berpendapat bahwa syariat islam ini kurang lengkap maka maka mereka tambah dengan baru sesuai dengan hawa nafsaunya sedangkan Jil cara beragamanya mengikuti kondisi akalnya atau dimana masyarakat bisa menerima sebagai hal yang dipandang pantas dan benar menurut stuasi dan kondisi masyarakat saat itu/ini dengan bahasa Si Ulil “kepantasan public” Kesimpulan penulis adalah Bahwa Islam Cultural & Islam Liberal secara subtansi ialah Sama. Sama-sama banyak peminatnya tetapi akhir-akhir ini JIL Lah yang lebih diminati oleh kalangan muda NU karena secara mayoritas akidah mereka sama. Lain dengan islam Moderat (wahabi) meskipun menoritas tetapi militan.