DVD Peran Syi’ah dalam Tragedi Palestina
Penderitaan Bangsa Palestina adalah penderitaan kita. Disana terjadi perampokan terbesar yang tidak ada bandingannya dalam sejarah. Bukanlah harta benda yang dirampok melainkan bumi Palestina, bumi Isra` mi’raj Nabi Muhammad saw , bumi Masjidil Aqsha, Qiblat pertama Umat Islam .
Penjajahan Zionis atas Palestina, ditempuh dengan cara merampas, membantai, mengusir dan memboikot makanan dan obat-obatan, baik darat, laut maupun udara. Namun pernahkan Anda berfikir dan membayangkan bahwa Bangsa Palestina yang mengalami penderitaan baik di Tanah Palestina maupun di Libanon dan Irak itu sempat berteriak bahwa :
“Syiah lebih kejam dari pada Yahudi!! Zionis lebih berbelas kasih dari Rafidhah?!!
Bukan hanya itu, kejahatan Yahudi itu pun kejahatan Syiah karena mereka senang, merestui dan mendoakan kemenangan bagi Zionis, karena kita dianggap oleh mereka “Anak pelacur, lebih najis dari anjing dan seluruh kotoran di bumi ini?!!”
Sudah saatnya kita sadar dan membuka mata kita !
Contoh Cuplikan:
[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=V-rvXRj6d2Y[/youtube]
DVD ini akan menuntun Anda
untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya, Rahasia Tragedi Palestina
Info dan Pemesanan hubungi:
081 233 430 433 atau 08585 504 1000
www.gensyiah.com
bekerjasama dengan
www.alburhan.com
This entry was posted by Abu Hamzah on 13 July 2010 at 06:34, and is filed under Info . Follow any responses to this post through RSS 2.0 .You can leave a response or trackback from your own site.
-
-
#1 written by hamba Allah 5 months ago
Ya Allah, perkenalkan diriku padaku; karena jika tidak, pasti aku tidak akan mengenal Rasul-Mu. Ya Allah, perkenalkan Rasul-Mu padaku; karena jika tidak, pasti aku tidak akan mengenal Hujjah-Mu. Ya Allah, perkenalkan Hujjah-Mu padaku; karena jika tidak, pasti aku akan tersesat dari agama-Mu
Rasulullah saw bersabda:
Pada hari kiamat nanti akan terdengar suara panggilan: Dimanakah orang-orang yang zalim dan para pendukungnya? Barangsiapa yang membantu mereka walaupun dengan setetes tinta atau sekedar mengikatkan tali kantong mereka, atau meminjamkan penanya kepada mereka, niscaya mereka akan digiring dan dikumpulkan bersama orang-orang yang zalim itu
kalau anda sekalian berkenan silahkan baca :
1. Di keluarkan dari Bukhari, Ahmad dan Baihaqi,
dari Jabir bin Samurah, Rasulullah SAWberkata,
“Akan muncul 12 orang amir”.
Jabir berkata: Setelah itu baginda SAW mengatakan sesuatu yang tidak dapat aku mendengarnya. Lantas bapakku berkata bahwa baginda bersabda: “Semuanya dari suku Quraisy.”
2. Di keluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku masuk bersama bapaku ke hadhrat Nabi lalu aku mendengar baginda SAW bersabda: “Urusan agama ini tidak akan selesai hingga sempurna 12 orang Khalifah.”
Jabir berkata: Kemudian baginda mengatakan sesuatu yang kabur dari pendengaran ku, maka aku bertanya kepada bapakku. Bapakku menjawab:“Semuanya dari Quraisy”
3. Dikeluarkan oleh Muslim dan Ahmad dari Jabir bin Samurah: Aku telah mendengar bahawa Rasulullah bersabda:
“Urusan agama akan tetap berjalan lancar selagi mereka dipimpin oleh 12 orang lelaki.”
4. Di keluarkan oleh Muslim, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban, al Khatib al Tabrizi, dari Jabir bin Samurah, Rasulullah SAW bersabda: “Islam akan tetap mulia(selagi mereka dipimpin oleh) dengan 12 orang khalifah”
5. Dikeluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Nabi bersabda pada petang Jumat ketika al Aslani di rajam: “Agama ini akan tetap teguh berdiri hingga hari kiamat karena kamu dipimpin oleh 12 orang khalifah.”
6. Di keluarkan oleh Ahmad, Al Hakim, al Haithami di dalam Majma’ uz Zawaid dinukil dari Thabrani dan al Bazzar, dari Jabir bin Samurah, Nabi bersabda: “Urusan umatku akan berada dalam keadaan baik sehinggalah cukup 12 orang khalifah.”
7. Di keluarkan oleh Ahmad, al Haithami di dalam Majma uz Zawaid, Ibnu Hajar di dalam al Mathalibul ‘Aliyah, al Busairi di dalam Mukhtasar al Ithaf dari Masruq berkata: Telah datang seorang lelaki kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata:
Apakah Nabimu pernah mengkhabarkan bilangan khalifah setelah wafatnya?
Ibnu Mas’ud menjawab: “Ya, tetapi tiada orang pun selain kamu yang bertanyakan perkara ini. Sesungguhnya kamu masih muda. Bilangan khalifah adalah seperti bilangan majlis Musa(as), iaitu 12 orang.”
Ini adalah hadits Rasulullah SAW yg mengungkapkan bahwa sepeninggal beliau akan ada 12 lelaki yang memimpin sebagai ‘khalifah’. Saya memberikan tanda kutip di sini karena pengertian khalifah oleh manusia pada umunya belum tentu sama dengan pengertian Allah tentang khalifah.
Syeikh Sulaiman al Qunduzi al Hanafi dalam kitabnya Yanabi al Mawaddah telah mengkhususkan satu bab hanya untuk himpunan hadits 12 orang khalifah ini. Beliau menyatakan bahwa Yahya bin Hassan menerusi kitabnya, al Umdah meriwayatkan 20 jalan sanad bahwa khalifah sepeninggal Nabi SAW ialah 12 orang. Bukhari meriwayatkan 3 jalan, Muslim 9 jalan, Abu Daud 3 jalan, dan Tarmizi 1 jalan.
Wahai hamba Allah bacalah jawaban kami terhadap syubhat anda ini di
http://qiblati.com/jawaban-syubhat-syiah-4.html
yaitu:Bismillah. Sepertinya, kami di majalah Qiblati, akan memberikan hadiah kepada orang syiah mana saja yang dapat menghadirkan satu informasi yang benar, atau berpegang diatas dalil yang shahih. Sangat tidak masuk akal pertanyaan Anda ini berisikan informasi yang berbeda, dan dalil yang bermacam-macam, tetapi tidak ditemukan didalamnya satupun yang shahih. Tidak diragukan lagi, bahwa ini menunjukkan terbaliknya ilmu, fitrah dan agama.
Dengarkanlah wahai anakku, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepadamu dan memperbaikimu :
Pertama, tidak sah sama sekali hadits:مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْرِفْ إِمَامَ زَمَانِهِ فَقَدْ مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa mati, dan tidak mengetahui imam zamannya, maka dia mati jahiliyah.”
Ini termasuk hadits-hadits Rafidhah, yang tidak ada asal usulnya menurut ahlus sunnah waljama’ah. Kemudian, tidak benar bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar. Sementara hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma adalah:
مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Siapa yang mati, sementara tidak ada baiat di lehernya, maka dia mati dengan kematian secara jahiliyah.”
Maka disini terdapat perbedaan antara bai’at dengan mewajibkan berbaiat kepada imam. Yang pertama adalah pembebanan kewajian untuk mengetahui imam zamannya, dan yang kedua adalah dalam masalah baiat.
Adapun pengikatan argumentasi Anda tentang baiat, dengan hadits:
لاَ يَزَالُ الْإِسْلاَمُ عَزِيْزًا إِلىَ اثْنَيْ عَشْرَ خَلِيْفَةً، كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ
“Tidak henti-hentinya Islam itu jaya hingga dua belas khalifah, semuanya dari Quraisy.” Maka itu adalah sebuah pengikatan yang rusak, tidak sejalan dengan fakta dan kenyataan sejarah. Jika engkau beriman dengan hadits ini, maka hadits itu datang dengan lafadz khalifah, dan bukan dengan lafadz imam, sebagaimana keyakinan terhadap hadits itu mengharuskan Anda untuk menerima imamah (kepemimpinan) Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, dan Mu’awiyah, karena mereka semua adalah khalifah dari Quraisy.
Maka ahlussunnah, bihamdillah, mengetahui imam-imam tersebut, serta mengetahui hak bagi mereka, dan mereka adalah orang yang paling banyak mengambil bagian dengan hadits ini, dan masuk diantara mereka Ali Radhiallahu ‘Anhu, serta al-Hasan Radhiallahu ‘Anhu, yang keduanya juga Khalifah/imam dari Quraisy.
Seandainya yang dimaksud, sesuai dengan pemahaman Anda, dan pemahaman orang-orang syi’ah bahwa kedua belas khalifah itu adalah para imam Syi’ah, maka pastilah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda min ahli baiti “dari ahlul baitku”, dan beliau tidak mengatakan dari Quraisy.
Anda telah bertanya, dan orang-orang Syi’ah lain juga bertanya, ‘Apa dalil masuknya Abu Bakar, Umar, dan Usman Radhiallahu ‘Anhum dalam khalifah dua belas yang dimaksud oleh hadits?
Maka kami menjawab, ‘Bahwa kami mengetahui hal itu dari sabda nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
الْخِلاَفَةُ فِيْ أُمَّتِيْ ثَلاَثُوْنَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ
“Kekhalifahan dalam umatuku itu tiga puluh tahun, kemudian setelahnya adalah kerajaan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan at-Turmudzi)
Sedangkan Imam al-Hasan bin ‘Ali Radhiallahu ‘Anhuma, adalah penyempurna tiga puluh tahun itu karena Khulafaurrasyidin yang empat itu memimpin selama 29 tahun 6 bulan, tinggal 6 bulan disempurnakan oleh Khalifah al-Hasan, jadi genap 30 tahun sebagaimana disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, ‘Sempurnanya tiga puluh tahun dengan kekhilafahan al-Hasan bin ‘Ali. Karenaa dia mengundurkan diri dari kekhilafahan dan menyerahkannya kepada Mu’awwiyah pada Rabi’ul Awwal dari tahun 41 H. itu adalah sempurna tiga puluh tahun dari wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena beliau wafat pada Rabi’ul Awwal tahun 11 H. dan ini adalah termasuk bukti kenabian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memujinya dengan perbuatannya ini, dia (imam al-Hasan) meninggalkan dunia yang fana, demi berharap akhirat yang kekal, serta menghentikan pertumpahan di tubuh umat ini, maka dia mengundurkan diri dari kekhilafahan, serta menjadi kerajaan di tangan Mu’awwiyah hingga kalimatpun bersatu pada satu pemimpin.”
Sebagaimana bahwa al-Hasan bin ‘Ali Radhiallahu ‘Anhuma telah merealisasikan nubuwwat (kabar kenabian) kakeknya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saat beliau bersabda,
إِنَّ ابْنِيْ هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللهُ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيْمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Sesungguhnya putraku ini adalah penghulu, mudah-mudahan dengannya Allah akan mendamaikan kedua kelompok besar dari kaum muslimin.” (HR. al-Bukhari)
Kemudian, saat kita melihat kepada keadaan sekte-sekte, dan kelompok-kelompok sempalan Syi’ah, akan terlihat bahwa mereka tidak sepakat atas para imam, akan tetapi mereka berselisih. Maka ketentuan apakah yang menjadikan al-haq dan kebenaran itu bersama Syi’ah Imamiah, dan tidak bersama kelompok Isma’iliyah, atau Zaidiyah, atau Kisaniyah, atau sempalan yang lain? Maka kalian sendiri terpecah belah menjadi banyak kelompok dalam masalah imamah (sementara ahlussunnah hanya satu kelompok, semua sepakat imamnya adalah Abu bakar, Umar, Usman, Ali, al-Hasan , Mu’awiyah dst. red).
Kemudian perhatikanlah kalimat ‘azizan’ dalam hadits tersebut, Anda akan menemukan bahwa keadaan keyakinan Anda menyelisihinya sama sekali. Saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak henti-hentinya Islam itu jaya…’ maka sesungguhnya kita bertanya, ‘Dimana kejayaan bagi Islam dengan bersembunyinya imam kedua belas kalian? Dimana kejayaan imam kalian yang bersembunyi? Dimana pertolongannya untuk Islam? Sementara Islam dan kaum muslimin menghadapi berbagai macam kezhaliman, penindasan, dan kesewenang-wenangan?!
kemudian baca juga:
wasiat Ali menjelang wafat:
Menjelang wafat, hanya hal-hal penting yang diingat. Mari kita simak bersama wasiat Ali bin Abi Thalib menjelang wafat. Wasiat dari Ali pastilah penting. Apalagi bagi temen-temen syi’ah, yang meyakini Ali sebagai imam maksum yang wajib diikuti.
Dari Abu Ali Al Asy’ari, dari Muhammad bin Abdul Jabbar, dan Muhammad bin Ismail, dari Fadhl bin Syadzan, dari Shafwan bin Yahya, dari Abdurrahman bin Hajjaj berkata : Abul Hasan Musa Alaihissalam mengirimkan padaku wasiat Amirul Mukminin Alaihissalam, isinya : Bismillahirrahmanirrahim, ini adalah wasiat dari pembagian harta dari hamba Allah Ali, demi mencari ridha Allah, kiranya agar sudi memasukkan saya ke sorga dan menjauhkan dari neraka karena wasiat ini, pada hari di mana ada wajah yang putih dan ada juga wajah yang menghitam, seluruh harta milikku yang ada di Yanbu’ dan sekitarnya adalah sedekah, dan seluruh budaknya selain Rabah dan Abu Naizar dan Jubair adalah merdeka, tidak ada yang boleh menghalangi mereka, mereka adalah budak, mengelola harta selama lima tahun, mereka boleh mengambil bagian harta untuk nafkah pribadi mereka dan keluarganya, sedangkan harta milik saya yang ada di Wadil Qura, dari harta milik anak keturunan Fatimah berikut budaknya adala sedekah, dan yang ada di Dimah beserta penduduknya adalah sedekah, kecuali Zuraiq, berlaku baginya seperti yang aku lakukan pada teman-temannya, sedangkan hartaku yang ada di Adzinah berikut penduduknya adalah sedekah, dan Faqirain seperti yang kalian ketahui adalah sedekah di jalan Allah, dan yang telah kutentukan dari hartaku ini adalah sedekah yang wajib kutunaikan baik saat aku hidup maupun sudah mati, seluruhnya diinfakkan demi mencari keridhoan Allah, di jalan Allah, demi meraih keridhoanNya, dan untuk kerabatku dari golongan Bani Hasyim serta Bani Muthalib, yang dekat maupun yang jauh, semuanya dikelola oleh Hasan bin Ali, dia boleh memakan harta itu dengan baik-baik, dan menginfakkan di jalan yang diajarkan Allah, maka itu halal dilakukannya, tidak ada masalah, jika dia ingin maka boleh dijadikan miliknya, sesungguhnya anak-anak Ali, budak dan hartanya adalah dikelola oleh Hasan bin Ali. Jika rumah yang menjadi miliknya bukan termasuk rumah sedekah, dan dia ingin menjualnya maka dia boleh menjualnya. jika dia menjualnya, maka hasil penjualannya dibagi menjadi tiga, sepertiga disedekahkan di jalan Allah, dan dua pertiga untuk Bani Hasyim dan bani Muthalib, sepertiganya untuk keluarga Abu Thalib, dibagikan pada mereka sesuai petunjuk Allah, jika terjadi sesuatu pada Hasan sedangkan Husein masih hidup, maka dikelola oleh Husein bin Ali, dan Husein harus mengelola sesuai dengan petunjukku pada Hasan, dia wajib melakukan apa yang dilakukan oleh Hasan, bagian sedekah untuk anak-anak fatimah adalah sama seperti anak-anak Ali, saya menggariskan ketentuan untuk anak keturunan Fatimah adalah untuk mencari keridhoan Allah dan menghormati Rasulullah, mengagungkan dan memuliakan Rasulullah dan Fatimah, jika terjadi sesuatu pada Hasan dan Husein, maka yang masih hidup di antara mereka berdua melihat anak cucu Ali , jika ada dari mereka yang baik agama dan amanatnya, maka diserahkan padanya jika dia mau, jika tidak ada dari mereka yang baik agama dan amanatnya, maka diserahkan pada salah satu dari anak cucu Abu Thalib yang dilihatnya baik, jika di antara anak cucu Abu Thalib sudah tidak ada lagi yang dituakan dan bijaksana, maka diserahkan pada salah satu dari Bani Hasyim, dengan syarat agar harta itu tetap dan tidak dijual, dan menginfakkan hasilnya seperti yang telah kutentukan, yaitu fi sabilillah, dan pada keluarga bani hasyim dan bani muthalib, tidak boleh dijual, dihibahkan dan diwariskan, dan harta Muhammad bin Ali yang menjadi miliknya, maka dia digabungkan dengan bagian anak cucu Fatimah, dan budak-budak yang namanya ada dalam daftar kecil, mereka seluruhnya merdeka. Inilah ketentuan yang dituliskan oleh Ali bin Abi Thalib dalam pengelolaan hartanya pada pagi ini, sehari setelah aku sampai di Muskin( nama tempat dekat Kufah), demi mencari keridhoan Allah dan negeri akherat, hanya Allah lah tempat kita semua meminta tolong dalam segala kondisi, tidak halal bagi seorang muslim yang beriman pada Allah dan hari akhir untuk merubah dan melanggar ketentuan ini, baik orang dekat maupun orang jauh. Dan budakku yang kugauli, jumlahnya 17, ada dari mereka yang memiliki anak, ada yang hamil, ada lagi yang tidak memiliki anak, siapa yang memiliki anak atau sedang hamil, maka tidak dimerdekakan, dan menjadi bagian anaknya, jika anaknya mati sedang dia masih hidup, maka dia merdeka tidak boleh ada yang menggugat, ini adalah pembagian yang ditentukan oleh Ali bagi hartanya, sehari setelalh sampai di Muskin, disaksikan oleh Abu Samr bin Burhah, Sha’sha’ah bin Shuhan, Yazid bin Qais, Hiyaj bin Abi Hiyaj, Ali menulis wasiat ini dengan tangannya sendiri pada 10 Jumadil Ula tahun 37 H.
Selain berwasiat mengenai pengelolaan hartanya, Ali juga berwasiat:
Bismillahirrahmanirrahim, inilah wasiat dari Ali bin Abi Thalib, mewasiatkan bahwa dirinya bersyahadat tiada tuhan selain Allah, hanya Dia sendiri tidak ada sekutu baginya, dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, diutus dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas seluruh agama, walaupun orang musyrik benci. Shallallahu Alaihi Wa Aalihi, lalu sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabbul Alamin, tidak ada sekutu baginya dan itulah yang diperintahkan padaku, dan aku termasuk golongan muslimin. Lalu aku mewasiatkan padamu wahai Hasan, dan seluruh ahlulbaitku, dan anakku, juga seluruh mereka yang membaca tulisanku ini, agar bertaqwa pada Allah Rabb kalian, jangan sampai kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Berpeganglah pada tali Allah bersama-sama, dan janganlah kalian berpecah belah, karena aku mendengar Rasulullah bersabda: hubungan baik di antara kaum muslimin lebih baik daripada shalat dan puasa secara umum, dan : hal yang merontokkan agama, yang menghabiskan agama adalah rusaknya hubungan baik di antara kaum muslimin, tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah semata, yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Perhatikanlah kerabat dekat kalian, sambunglah silaturahmi, agar Allah memudahkan hisab amalan kalian. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang anak yatim, teruslah memberi makanan mereka, jangan sampai terputus, jangan sampai mereka tidak terurus di depan kalian, aku telah mendengar rasulullah bersabda: siapa yang menanggung hidup anak yatim sampai bisa bekerja dan mencukupi hidupnya, Allah mewajibkan baginya sorga, sebagaimana mewajibkan neraka bagi orang yang memakan anak yatim. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang Al Qur’an, jangan sampai kalian ketinggalan dalam mengamalkanya dari orang lain, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang tetangga kalian, karena Rasulullah telah berwasiat tentang mereka, dan selalu mewasiatkan sampai kami mengira bahwa tetangga akan mewarisi harta tetangganya. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang rumah-rumah Allah (masjid) jangan sampai kosong dari kehadiaran kalian selama kalian masih hidup, jika kalian meninggalkan rumah-rumah Allah, kalian tidak diberi tenggang lagi dari azab, dan hal yang didapat dari orang yang pergi ke masjid adalah diampuni dosanya yang telah lalu, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang shalat, karena shalat adalah sebaik-baik amalan, shalat adalah tiang agama. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang zakat, sungguh zakat memadamkan kemarahan Rabb kalian, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang puasa Ramadhan, karena berpuasa pada bulan itu adalah perisai dari api neraka, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang kaum fakir dan miskin, ikutkan mereka dalam kehidupan kalian, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang jihad dengan harta, jiwa dan lisan kalian, karena hanya ada dua macam orang yang berjihad, yaitu imam yang membawa petunjuk, dan orang taat yang mengikuti petunjuk imam, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang keturunan Nabi kalian, jangan sampai mereka dizhalimi di depan mata kalian, sedangkan kalian mampu membela mereka. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang sahabat Nabi kalian, yang tidak berbuat dosa dan tidak melindungi pendosa, karena Rasulullah mewasiatkan mereka, dan melaknat orang yang berbuat jahat di antara mereka, atau melindungi penjahat, juga dari selain mereka. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang wanita dan budak, karena kata akhir Nabi kalian adalah : akuw asiatkan pada kalian dua golongan lemah, yaitu wanita dan budak. Shalat, shalat, shalat, dan janganlah kalian takut melakukan perintah Allah karena celaan orang, Allah akan membela kalian dari orang yang mengganggu dan menganiaya kalian, ucapkan perkataan yang baik pada manusia, seperti telah diperintahkan oleh Allah. janganlah kalian meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, jika kalian tinggalkan, Allah akan menjadikan bagi kalian pemimpin dari golongan terjelek dari kalian, lalu kalian berdo’a dan tidak dikabulkan. Wahai anakku, hendaknya engkau menyambung hubungan, memberi orang lain dan berbuat baik, hindarilah memutus hubungan, saling membelakangi dan berpecah belah, hendaknya kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong menolong atas perbuatan dosa dan permusuhan, bertakwalah pada Allah, sesungguhnya hukuman Allah adalah keras, semoga Allah menjaga kalian, seperti menjaga keluarga Nabi dan NabiNya di antara kalian, kutitipkan kalian pada Allah, dan aku membaca Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Lalu Ali terus mengucapkan : Laa Ilaaha Illallah, hingga akhirnya wafat…. Pada malam tanggal 23 Ramadhan, bertepatan malam jumat, tahun 40 H
Wasiat di atas tercantum dalam literatur syiah : Al Kafi, Mal La Yahdhuruhul Faqih, Tuhaful Uqul, Tahdzibul Ahkam, Nahjus Sa’adah, Biharul Anwar, Mustadrak Safinatil Bihar.
Wasiat ini tidak ditujukan pada anak-anak Ali saja, tapi pada siapa saja yang membaca surat wasiatnya. Yang perlu kita cermati di sini, Ali berwasiat tentang banyak hal. Ali mengawali wasiatnya dengan wasiat tentang persatuan umat. Lalu dengan Al Qur’an, shalat, zakat, puasa ramadhan dan ibadah haji. Tidak ketinggalan Ali berwasiat agar bersikap baik terhadap para sahabat Nabi, berlaku baik pada wanita dan budak, tentang anak yatim, dan amar makruf nahi munkar. Semua poin dalam wasiat ini adalah hal-hal yang penting.
Namun Ali tidak menyinggung satu hal yang dianggap penting oleh syi’ah hari ini. Ternyata Ali sama sekali tidak menyinggung masalah imamah. Tidak menyinggung 12 imam, kewajiban mengikuti imam, tidak mewasiatkan pada anak cucunya berikut umat Islam untuk mengikuti 12 imam. Ini satu pertanda bahwa Ali tidak mengenal keyakinan imamah seperti dikenal oleh syi’ah hari ini. Ali malah berwasiat untuk bersikap baik pada para sahabat Nabi, mereka yang dianggap pengkhianat oleh syi’ah. Berwasiat tentang persatuan umat, melarang untuk bermusuhan sesama muslim. Sementara syi’ah menganggap kaum muslim yang tidak meyakini imamah adalah sesat.
Ali tidak meyakini imamah sebagaimana diyakini syi’ah hari ini, dan tidak pernah tahu tentang kewajiban beriman pada 12 imam.Kata Ali:
, jika terjadi sesuatu pada Hasan dan Husein, maka yang masih hidup di antara mereka berdua melihat anak cucu Ali , jika ada dari mereka yang baik agama dan amanatnya, maka diserahkan padanya jika dia mau.Jika Ali mengimani adalah 12 imam, sebagaimana syi’ah hari ini, mestinya diserahkan pada Ali bin Husein, bukan salah satu dari anak cucu Ali. Bukankah 12 imam sudah ditunjuk oleh Nabi? Atau Ali, sang pintu ilmu nan maksum, kali ini tidak tahu?
Memang Ali tidak mengenal ajaran imamah.
-
#2 written by abu bakar 12 months ago
Di Lebanon banyak ulama Sunni yang mendukung Hizbullah yang Syiah. Di Palestina para pejuang Hamas hanya didukung Iran. Saya jadi bingung….Di Lebanon banyak ulama Sunni yang mendukung Hizbullah yang Syiah. Di Palestina para pejuang Hamas hanya didukung Iran. Saya jadi bingung….
Apa yang pak Abu Bakar dengar tersebut adalah isu, atau klaim yang kosong dari bukti. Semoga pak Abu Bakar memiliki iman seperti sahabat Abu Bakar as-Siddiq Radhiallahu ‘Anhu, supaya tidak bingung
-
#3 written by leyla 1 year ago
Asalamualaikum
Y Allah,kejammmm sekali syiah ini. Saya seorang ibu yg sy akui ilmu agama saya sangatlah kurang…dan aka terus berusaha untuk lebih memahami dan mendalami Agama yg Agung ini. saya senang membaca majalah2 dan dvd2 yg membahas ilmu agama baik ceramah maupum film seperti dvd diatas.
dan saya kaget ketika membaca komentar org yg seperti mengagungkan syiah dan membelanya.
dan saya tertarik DVD nya,sy liat film sekilasnya….Astagfirullah saya benar2 kaget,ternyata syiah benar2 buruk dan jahat. Semoga Allah selalu melindungi Umat Muhammad SAW.. Amin.Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah. Allah membuka mata ibu. Itulah syiah yang kejam dan jahat kepada keluarga Nabi. Sahabat nabi dan pengikut Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang setia dengan sunnah.
- Riwayat-Riwayat Syiah yang Lucu dan Tragis, Mengundang Tangis Bercampur Tawa
- Tragedi Hari Kamis
- Awas! Bahaya Syiah Iran!!!!
- Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 6)
- Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 19)
- Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 5)
- Syiah Dalam Gambar
- Darurat Wahai Ummat Nabi Muhammad SAW!!!
- Iran VS Israel ?!!!!
- Bahaya Munafiq