Latest

DIPLOMATIK IRAN ADALAH KEDOK TERORISME PARA MULLA?

Dominasi Ajaran Syi'ah di Sekolah-Sekolah Iran

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran mengalami transformasi besar di hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Sekolah-sekolah yang sebelumnya menganut kurikulum sekuler pada era Syah Mohammad Reza Pahlawi direformasi total sesuai visi ideologi Syi'ah Itsna 'Asyariyah yang diusung Ayatullah Khomeini. Perubahan ini menyentuh seluruh jenjang, dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Siswa Iran mendapatkan berbagai pelajaran umum seperti matematika dan sains, namun pelajaran agama memiliki bobot yang sangat besar dengan kurikulum kental nuansa Syi'ah. Materi tentang konsep imamah, Wilayat al-Faqih, hingga penafsiran sejarah Islam versi Syi'ah yang memojokkan sahabat Nabi Muhammad SAW diajarkan secara sistematis. Pendidikan semacam ini membentuk cara pandang generasi muda Iran terhadap dunia Islam secara keseluruhan.

Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi umat Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia. Banyak pengamat Sunni menyoroti bagaimana pendidikan Syi'ah di Iran berfungsi sebagai alat untuk menanamkan paham eksklusivisme dan membenarkan kekerasan terhadap kelompok yang dianggap berbeda. Wacana tentang fenomena ini perlu dikenali lebih jauh agar masyarakat tidak mudah terpengaruh propaganda yang menyesatkan.

Akar Historis Pendidikan Syi'ah di Iran

Sebelum Revolusi 1979, sistem pendidikan Iran bersifat modernis dan sekuler dengan universitas-universitas yang banyak dipengaruhi pemikiran Barat. Setelah Khomeini berhasil menggulingkan Syah, terjadi revolusi kebudayaan yang menyentuh seluruh sendi pendidikan. Kementerian Pendidikan dirombak, ribuan guru yang dianggap tidak sejalan dengan ideologi baru diganti, dan kurikulum baru segera disusun.

Kurikulum baru tersebut memasukkan mata pelajaran seperti "Pengenalan Ideologi Islam" dan "Sejarah Revolusi Islam" yang sangat kental nuansa Syi'ah. Kelompok-kelompok seperti Hizbullah Iran dan Basij berperan penting dalam proses indoktrinasi, turun ke sekolah-sekolah menengah untuk memberikan pelatihan tambahan di luar jam pelajaran resmi. Tujuannya adalah membentuk karakter siswa yang militan dan siap membela rezim Wilayat al-Faqih.

Lembaga Bonyad-eh Tablighat-e Eslami memiliki wewenang menentukan materi yang diajarkan, melatih guru agama, dan mengawasi sekolah-sekolah agar tidak terjadi penyimpangan dari garis ideologi yang ditetapkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan di Iran adalah proyek ideologis yang terorganisir, bukan sekadar proses transfer ilmu.

Doktrin Wilayat al-Faqih dalam Kurikulum

Salah satu pilar utama yang diajarkan di sekolah-sekolah Iran adalah doktrin Wilayat al-Faqih, konsep kepemimpinan tertinggi yang dipegang seorang faqih Syi'ah. Konsep ini diajarkan sebagai doktrin politik dan keagamaan yang wajib diimani. Siswa-siswa sejak SMA sudah diperkenalkan pemikiran Ayatullah Khomeini dalam buku "Wilayat al-Faqih" yang menjadi referensi wajib.

Konsep ini sangat berbeda dengan pemahaman Ahlus Sunnah tentang kepemimpinan umat Islam. Dalam tradisi Sunni, kepemimpinan dijalankan melalui musyawarah dan pilihan umat, tidak harus dipegang seorang faqih secara mutlak. Akan tetapi, di Iran, doktrin Wilayat al-Faqih dijadikan landasan untuk melegitimasi kekuasaan tertinggi negara, termasuk kekuasaan militer dan kebijakan luar negeri.

Akibatnya, generasi muda Iran tumbuh dengan pemahaman bahwa kepemimpinan tertinggi harus dipegang seorang faqih dan Syi'ah adalah madzhab paling benar. Pemahaman eksklusif semacam ini menjadi landasan berbagai kebijakan kontroversial Iran. Untuk memahami lebih jauh konsep-konsep dasar dalam madzhab Syi'ah, pembaca dapat merujuk pada ushul madzhab Syi'ah yang telah diterjemahkan secara lengkap.

Materi Pelajaran dan Buku Teks

Buku-buku pelajaran agama di sekolah-sekolah Iran banyak memuat narasi yang memuji para imam Syi'ah dan keluarganya, sekaligus memberikan gambaran negatif terhadap sahabat Nabi Muhammad SAW. Dalam buku Pendidikan Islam tingkat SMA misalnya, terdapat pembahasan panjang tentang "Tsaqalain" dan "Peristiwa Saqifah" yang cenderung memojokkan posisi Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Buku-buku sejarah Iran menggambarkan perang-perang pada masa awal Islam dengan bias Syi'ah yang kuat. Perang Karbala misalnya, digambarkan secara emosional untuk membangkitkan semangat kebencian terhadap pihak yang dianggap musuh Syi'ah. Tujuannya adalah membentuk identitas keagamaan siswa yang militan, sehingga mereka bersedia berkorban demi madzhab dan negaranya.

Buku-buku tentang Ahlul Bait dan para imam menjadi materi wajib yang harus dikuasai siswa. Mereka harus hafal nama dua belas imam, memahami peristiwa penting dalam hidup mereka, dan meyakini para imam memiliki sifat maksum. Ajaran ini berbeda dengan konsep ma'sum dalam tradisi Ahlus Sunnah yang umumnya hanya berlaku untuk para nabi dan rasul. Kondisi ini menunjukkan bagaimana pendidikan di Iran mengajarkan versi Syi'ah yang sangat spesifik.

Dampak pada Generasi Muda dan Masyarakat

Generasi muda Iran yang tumbuh dengan pendidikan semacam ini memiliki karakteristik berbeda dengan generasi muda di negara-negara Muslim lainnya. Mereka cenderung memiliki loyalitas tinggi terhadap ideologi negara, bahkan rela mengorbankan kepentingan pribadi demi madzhab dan kepemimpinan Wilayat al-Faqih. Fenomena ini terlihat dari tingginya jumlah pemuda yang menjadi sukarelawan Basij dan militan yang dikirim ke Suriah dan Irak untuk membela rezim Assad.

Pemuda Iran juga aktif dalam kegiatan keagamaan Syi'ah seperti peringatan Asyura, kunjungan ke makam para imam, dan ritual khas Syi'ah lainnya. Mereka didorong untuk menghidupkan kembali tradisi Syi'ah dan mempromosikannya di seluruh dunia. Banyak di antara mereka yang dikirim ke Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman untuk menyebarkan paham Syi'ah dan mendukung kelompok militan pro-Iran.

Dampak pendidikan semacam ini juga terasa pada hubungan Iran dengan negara-negara tetangga. Banyak kebijakan luar negeri Iran mendapat penolakan keras dari negara-negara Sunni, karena dianggap sebagai upaya mengekspor revolusi Syi'ah. Konflik sektarian di Timur Tengah tidak bisa dilepaskan dari peran pendidikan Iran yang membentuk generasi militan Syi'ah selama puluhan tahun. Untuk membaca analisis tentang paham-paham menyimpang dalam tubuh Syi'ah, silakan mengunjungi tulisan Aliran Ghulat dan Ekstremisme dalam Tubuh Syi'ah.

Pengaruh Regional dan Internasional

Pendidikan Syi'ah di Iran memberikan pengaruh besar terhadap komunitas Syi'ah di negara-negara lain. Banyak negara dengan populasi Syi'ah signifikan, seperti Irak, Lebanon, Bahrain, dan Pakistan, mengirimkan pelajar mereka ke Iran untuk menempuh pendidikan agama. Setelah lulus, mereka kembali ke negara masing-masing dan mengajarkan paham yang mereka pelajari. Pola ini menjadi salah satu cara efektif Iran memperluas pengaruhnya.

Di Indonesia sendiri, pengaruh pendidikan Syi'ah Iran juga mulai terasa, terutama melalui jaringan pesantren dan lembaga pendidikan yang memiliki afiliasi dengan Iran atau kelompok Syi'ah internasional. Beberapa lembaga pendidikan Syi'ah di Indonesia menggunakan kurikulum dan buku-buku yang berasal dari Iran. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam Indonesia yang ingin mempertahankan pemahaman Ahlus Sunnah sesuai ajaran para ulama nusantara.

Upaya memperkenalkan paham Sunni yang moderat dan kontekstual harus terus dilakukan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh propaganda Syi'ah yang disebarluaskan melalui jalur pendidikan. Kerja sama internasional antar ulama Sunni juga perlu ditingkatkan untuk melawan penetrasi paham Syi'ah yang massif di berbagai negara. Tanpa upaya serius, pendidikan Syi'ah akan terus menjadi ancaman bagi keharmonisan umat Islam global.

Read More