Latest
APAKAH INI BAGIAN DARI KEBOHONGAN (HOAX) SYIAH?
DIPLOMATIK IRAN ADALAH KEDOK TERORISME PARA MULLA?
Mengapa Syi'ah membenci generasi terbaik Islam (Salaf)?
Para pembaca yang dirahmati Allah, pembahasan tentang generasi awal umat Islam selalu menjadi topik yang menarik. Istilah Salafush Shalih merujuk kepada generasi terbaik yang hidup pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yaitu para Shahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang dijamin masuk surga oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah, mencintai dan mengikuti jejak Salaf merupakan bagian integral dari keimanan. Sikap ini bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan fondasi akidah yang kokoh. Barangsiapa yang membenci generasi terbaik ini, patut dipertanyakan kebersihan imannya.
Syi'ah sebagai salah satu kelompok yang mengaku bagian dari Islam memiliki pandangan yang sangat berbeda. Pandangan tersebut bukan sekadar perbedaan interpretasi, melainkan bentuk permusuhan terstruktur dalam doktrin resmi mereka. Tulisan ini akan mengupas mengapa kelompok Syi'ah membenci generasi terbaik Islam.
Memahami kedudukan Salaf dalam Islam
Salafush Shalih adalah istilah yang telah dikenal luas di kalangan umat Islam, khususnya Ahlussunnah wal Jama'ah. "Salaf" bermakna "yang terdahulu" dan "Shalih" bermakna "yang baik". Mereka hidup dalam rentang waktu sekitar tiga abad setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Generasi ini memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Rasulullah SAW memberikan jaminan tentang keutamaan mereka melalui hadits shahih, termasuk sabda tentang sebaik-baik manusia yang hidup pada zamannya, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya lagi. Hadits ini menjadi dalil utama tentang keutamaan Salaf yang telah disepakati oleh para ulama.
Meneladani Salaf bukan berarti mengkultuskan mereka, melainkan memahami Islam sebagaimana yang mereka pahami. Mereka menyaksikan langsung turunnya wahyu, berjuang bersama Rasulullah, dan menjaga kemurnian ajaran Islam. Generasi setelahnya hanya dapat memahami Islam melalui periwayatan dan jejak yang mereka tinggalkan.
Pandangan Syi'ah tentang para Shahabat Nabi
Berbeda dengan Ahlussunnah, Syi'ah memiliki pandangan negatif terhadap mayoritas Shahabat Nabi. Mereka hanya mengakui keimanan beberapa Shahabat tertentu, seperti Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan, dan Husain. Sementara Shahabat lain seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan dianggap menyeleweng dari ajaran Islam.
Pandangan ini didasarkan pada doktrin "Wilayah" yang mengajarkan bahwa kepemimpinan setelah Rasulullah harus jatuh kepada Ali secara langsung. Karena Abu Bakar dan Umar dianggap merebut kepemimpinan tersebut, keduanya dinilai sebagai perampas hak dan dzalim. Konsekuensinya, keduanya bahkan dinilai kafir atau munafik oleh sebagian ulama Syi'ah.
Pernyataan-pernyataan kasar dari tokoh-tokoh Syi'ah terhadap Shahabat bukanlah hal yang aneh. Celaan terhadap Sayyidina Abu Bakar dan Umar merupakan hal yang lumrah. Beberapa sumber bahkan menyatakan bahwa mereka menganggap para Shahabat telah merusak agama Islam secara keseluruhan.
Akar permusuhan dalam doktrin Syi'ah
Permusuhan terhadap Salaf memiliki akar historis dan doktrinal yang kuat dalam tradisi Syi'ah. Akar tersebut dapat ditelusuri hingga peristiwa Saqifah Bani Sa'idah, tempat perdebatan tentang kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Rasulullah. Dalam versi Syi'ah, peristiwa ini digambarkan sebagai kudeta terhadap hak Ali.
Versi sejarah yang dikembangkan Syi'ah sangat berbeda dengan versi Ahlussunnah. Mereka membangun narasi bahwa Islam telah dirusak oleh para Shahabat yang tidak setia, dan hanya kelompok kecil yang mempertahankan ajaran yang benar. Narasi ini berkembang menjadi doktrin resmi yang diajarkan di pusat-pusat pendidikan Syi'ah di berbagai negara.
Salah satu buktinya adalah keberadaan kitab-kitab yang secara khusus membahas kedustaan dan keburukan Shahabat. Kitab-kitab tersebut dipenuhi dengan cerita yang merendahkan para Shahabat. Ajaran seperti ini jelas bertentangan dengan Al-Qur'an yang memuji para Shahabat secara keseluruhan dalam banyak ayat.
Tuduhan Syi'ah terhadap pemimpin pertama umat Islam
Tuduhan paling keras dari Syi'ah tertuju kepada Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah pertama umat Islam. Dalam tradisi Syi'ah, Abu Bakar sering digambarkan sebagai sosok tamak kekuasaan, lemah iman, dan dituduh memalsukan ayat-ayat Al-Qur'an. Tuduhan ini bertentangan dengan fakta sejarah yang disepakati banyak sejarawan Muslim.
Begitu pula dengan Sayyidina Umar bin Khattab, khalifah kedua yang dijuluki "Al-Faruq". Syi'ah menganggap Umar sebagai sosok keras, dzalim, dan menghalangi hak-hak Ali. Beberapa riwayat Syi'ah menyebutkan bahwa Umar memiliki akhlak buruk dan sering berlaku sewenang-wenang terhadap masyarakat.
Tuduhan serupa juga dialamatkan kepada Sayyidina Utsman bin Affan, khalifah ketiga yang terkenal dermawan. Bahkan Aisyah binti Abu Bakar, istri Rasulullah, juga tidak luput dari celaan sebagian kelompok Syi'ah. Pola permusuhan ini menunjukkan bahwa bukan hanya masalah politik, melainkan sudah menyangkut akidah yang mendalam. Pembahasan lebih lanjut dapat ditemukan di https://gensyiah.com/mengapa-kami-tidak-mengamalkan-doa-kumail.html/comment-page-1.
Konsekuensi akidah Syi'ah terhadap Salaf
Permusuhan terhadap Salaf memiliki konsekuensi akidah yang serius dalam tradisi Syi'ah. Ketika para Shahabat dinilai negatif, maka sumber-sumber hukum Islam yang diriwayatkan mereka menjadi dipertanyakan. Mayoritas hadits Nabi diriwayatkan oleh Shahabat yang justru dicela oleh Syi'ah.
Kondisi ini menciptakan dilema besar. Jika mereka menolak periwayatan Shahabat, maka banyak ajaran Islam yang tidak memiliki sandaran. Mereka kemudian membatasi keimanan hanya kepada Shahabat tertentu dan membangun sistem periwayatan sendiri yang disebut "Ahlu Bait" dengan sumber yang sangat terbatas.
Sistem "Ahlu Bait" ini akhirnya menghasilkan perbedaan mencolok antara Islam Syi'ah dan Islam Ahlussunnah. Banyak ritual, keyakinan, dan praktik ibadah yang sangat berbeda, sehingga seorang Muslim Syi'ah sering kali memiliki kesamaan lebih besar dengan agama-agama lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa permusuhan terhadap Salaf telah membawa Syi'ah jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya.
Menjaga kecintaan kepada generasi Salaf
Sebagai Muslim Ahlussunnah, menjaga kecintaan kepada Salaf adalah bagian dari keimanan. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa mencaci Shahabat adalah bentuk kekufuran dan kemunafikan. Oleh karena itu, siapa pun yang berani mencela generasi terbaik ini patut diwaspadai keimanannya.
Langkah nyata yang bisa dilakukan adalah mempelajari sejarah hidup para Shahabat dari sumber terpercaya. Kitab seperti "Al-Ishabah" karya Ibn Hajar Al-Asqalani dan "Usdul Ghabah" karya Ibn Atsir menyajikan biografi para Shahabat dengan akurat. Sumber-sumber ini membantu umat Islam memahami keagungan generasi Salaf secara objektif.
Selain itu, kita juga perlu menyebarkan kebenaran tentang posisi Salaf dalam Islam. Banyak umat Islam yang belum memahami bagaimana Syi'ah sebenarnya memandang para Shahabat. Dengan pengetahuan yang benar, diharapkan semakin banyak orang yang waspada terhadap ajaran menyimpang dan tetap berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah.
VIDEO: STRATEGI YAHUDI DAN SYIAH UNTUK MENJAJAH MAKKAH SAUDI ARABIA
ORANG DEKAT KHUMAINI DIPEJARA OLEH IRAN
RAJA SALMAN: DUNIA HARUS MENCEGAH IRAN
CINA MENGUSIR JAMAAH DAN MENGHANCURKAN 3 MASJID
SIKAP SYIAH RAFIDHAH TERHADAP AGAMA ISLAM
SYIAH MEMANG SUMBER KHURAFAT. INGIN BUKTI?
PERAYAAN ASYURA SYIAH AKAN SELALU MENJADI PEMICU BENTROKAN ANTARA AHLUSSUNNAH DAN SYIAH!!
Raja salman Mengenai Fitnah Tuduhan WAHABI.